Kisah Isro mi'roj ~ SMA DARUSY SYAFAAH KOTAGAJAH

Kisah Isro mi'roj


 OASE. 27 RAJAB 1442.H.

KISAH ISRA MI'RAJ PERJALANAN SUCI NABI MUHAMMAD SAW MENUJU ALLOH.SWT.



Mengapa bulan rajab di peringati dan apa arti peringatan itu ?

Jawabannya yaitu 


1. Karena bulan rajab adalah salah satu bulan mulia atau bulan yang istimewa.

Ibnu Katsir menerangkan bahwa Rajab berasal dari tarjib yang artinya menghormat. Dari namanya Rajab adalah bulan yang layak dihormati dan dimuliakan. Allah berfirman 

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah itu ada 12 bulan. Seluruhnya dalam ketetapan Allah di hari Dia menciptakan langit dan bumi. Di antara (12 bulan) itu terdapat empat bulan haram (mulia). Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam bulan yang empat itu…” (QS. At Taubah : 36)


Ayat di atas menjelaskan bahwa sanksi berbuat dosa di bulan-bulan haram ( bulan yang mulia) jauh lebih berat dibandingkan bulan-bulan lainnya, selain bulan suci Ramadhan. Sebaliknya, amal shalih di bulan-bulan haram (bulan mulia) pahalanya lebih besar dibandingkan di bulan lainnya, kecuali Ramadhan.


“Sesungguhnya mengerjakan perbuatan zalim di bulan-bulan haram, maka dosa dan sanksinya jauh lebih besar dibandingkan melakukan perbuatan zalim di bulan-bulan lainnya.

“Amal shalih di bulan haram pahalanya lebih besar, dan kezaliman di bulan ini dosanya juga lebih besar dibanding di bulan-bulan lainnya, kendati kezaliman di setiap keadaan tetap besar dosanya.”


2. Bulan Rajab adalah bulan yang Dekat dengan Ramadhan

Antara Rajab dan Ramadhan hanya dipisahkan dengan Sya’ban. Di antara kebiasaan para ulama, mereka menyiapkan diri menyambut bulan Ramadhan sejak bulan Rajab. Hal ini bisa dilihat dari doa yang sangat populer:

اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِى رَجَبَ وَ شَعْبَانَ وَ بَلِغْنَا رَمَضَانَ


“Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, serta pertemukanlah kami dengan bulan ramadhan 


3. Bulan adalah bulan Isra’ Mi’raj

Pada tanggal 27 Rajab diyakini sebagai tanggal terjadinya Isra’ Mi’raj, oleh umat Islam. 

Isra’ Mi’raj adalah perjalanan luar biasa yang melalui peristiwa itu Rasulullah mendapatkan perintah shalat lima waktu


Peringatan artinya teguran/nasihat supaya ingat akan kewajiban kepada Allah sebagai bekal menghadap kepada Allah SWT dzat yang maha suci harus suci dari dosa/maksiat dari hawa nafsu dunia setan tamak rakus iri hati dengki ujub sombong takabur sum'ah riya munafik fasik Ingkar dll sebagaimana Rosulullah sebelum di Isra dan Mi'raj kan oleh Allah disucikan hatinya dari sifat-sifat tercela tersebut maka Allah berfirman dalam surat Al-Israa:1

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ


Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (Q.S.Al-Isra:1)


Isra Miraj merupakan salah satu peristiwa penting bagi umat Islam. Peristiwa yang terjadi pada malam Senin tanggal 27 Rajab di tahun ke 10 kenabian yaitu peristiwa perjalanan suci Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram mekah ke Masjidil Aqsa Palestina yerussalem menggunakan kendaraan burok hingga naik ke Sidratul Muntaha di langit ke tujuh dalam satu malam.


Selama dalam perjalanan, malaikat Jibril sempat mengajak Nabi Muhammad SAW singgah salat di beberapa tempat seperti 

a. Di Tayyibah yaitu ibu kota madinah 

b. Di Madyan yaitu di bawah pohon tempat berteduh nabi musa saat keluar dari mesir sebab dikejar-kejar oleh Raja Fir'aun 

c. Di Thursina yaitu tempat bermunajatnya nabi Musa 

d. Di Betlehem yaitu tempat kelahiran nabi isa bin maryam 

e. Di baitul makdis palestina 


Selama perjalanan Nabi Muhammad SAW juga dihadapkan dengan berbagai godaan antara lain 

a. Godaan pertama, Nabi ditawari meminum khamar atau susu, namun Rasulullah memilih susu. 

b. Selama perjalanan Nabi Muhammad SAW juga selalu diganggu dengan panggilan dari setan, iblis dan perempuan penggoda.


Miraj adalah perjalanan Nabi Muhammad SAW dari bumi ke Sidratul Muntaha bersama Malaikat Jibril. Selama menapaki langit ketujuh, Rasulullah sempat bertemu dengan beberapa nabi yaitu

1. Dilangit pertama Rasulullah bertemu Nabi Adam

2. Dilangit Kedua Nabi bertemu Nabi Isa

3. Di Langit ke tiga Nabi bertemu Nabi Yusuf 

4. Di Langit ke empat Nabi Muhammad bertemu dengan Nabi Idris 

5. Di Langit ke lima Nabi Muhammad bertemu dengan Nabi Harun 

6. Di Langit ke enam Nabi Muhammad bertemu dengan Nabi Musa 

7. Di Langit ke tujuh Sidrarul Muntaha Nabi Muhammad bertemu dengan Nabi Ibrahim yang menjadi akhir perjalanan Nabi Muhammad menerima perintah Allah SWT. 


Perintah yang diterima Rasulullah saat itu yaitu berupa perintah sholat 50 waktu dalam satu hari. Namun ketika menerimanya, Nabi Muhammad SAW diperingatkan oleh Musa untuk memperhatikan kemampuan ummatnya


Maka saat itu, Nabi Muhammad SAW meminta keringanan pada Allah sehingga perintah sholat menjadi lima waktu dalam sehari. Sejak saat itulah ummat Muslim harus melakukan shalat wajib lima waktu.


Pelajaran yang dapat kita ambil pelajaran dan dapat kita laksanakan dari peristiwa Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW adalah

1). Mensucikan penyakit rohani kita (penyakit hati kita) seperti hawa nafsu dunia setan tamak rakus iri hati dengki ujub sombong/takabur sum'ah riya munafik fasik Ingkar dll menuju iman islam dan ihsan dengan cara hati kita selalu bertauhid berdzikir mengingat Allah menyebut Allah 

2). Shalat lima waktu sebagai sarana/alat pelebur dosa dengan cara selama sholat hati mengingat Allah/berdzikir mengingat Allah


Allah itu dekat dengan hambanya

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ

Dan Dia (Allah) bersama kamu di mana saja kamu berada. (al Hadid/57:4).


Berdasarkan ayat di atas Allah itu sangat dekat dengan hambanya tapi proses menuju Allah sangatlah panjang banyak tantangan atau rintangan yang harus di hadapi dan ditaati sebagaimana digambarkan dalam peristiwa Isra dan Mi'raj Nabi Muhammad SAW. Proses menuju Allah diterangkan dalam Al-Qur'an minimal memenuhi tiga persyaratan yaitu 

1. Harus suci hatinya dari hawa nafsu dunia setan tamak rakus iri hati dengki ujub sombong/takabur sum'ah riya munafik fasik fasik Ingkar dll 

2. Hati harus istiqomah beriman bertauhid dengan cara berdzikir mengingat Allah menyebut Allah 

3. Shalat yang khusyu' yakni ketika shalat hati tetap mrngingat Allah berdzikir menyebut Allah tidak mengingat selain Allah. 


Oleh sebab itu kewajiban pertama bagi manusia adalah terlebih dahulu ia harus mensucikan hatinya sebagaimana firman Allah:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّ

“Beruntunglah orang yang mensucikan hatinya dan mengingat Tuhan-Nya, maka didirikannya sembanhyang”. (Q.S. 87 Al-A’la: 14-15)

            Dari penjelasan surah Al-A’la di ayat 14 dan 15 di atas dapat diambil kesimpulan bahwa ada tiga kewajiban yang dibebankan oleh Allah kepada manusia:

1. Kewajiban Mensucikan Hati

            Di dalam surah Al-A’la ayat 14 Allah menyatakan bahwa orang-orang yang telah mensucikan hatinya sesungguhnya telah memperoleh keberuntungan. Lalu dibenak kita timbul beberapa pertanyaan:

- Apa yang dimaksud dengan hati yang bersih?

- Bagaimana cara membersihkan hati?

- Mengapa orang yang mensucikan hatinya disebut orang yang beruntung?

- Apa keuntungan yang diperoleh oleh orang yang telah mensucikan hatinya?


Pertama, apa yang dimaksud dengan hati yang bersih? 

Yang dimaksud dengan hati yang bersih yaitu tidak ada di dalam hati itu selain Allah. Artinya seseorang yang disebut hatinya bersih adalah orang yang hatinya senantiasa berdzikir /selalu mengingat Allah. 


Kedua, bagaimana cara membersihkan hati? Satu-satunya cara membersihkan hati yaitu hati kita selalu berdzikir menyebut Allah mengingat Allah sebagaimana Hadis Nabi:

لِكُلِّ شَيْءٍ صَقَلَةٌ وَصَقَلَةُ الْقَلْبُ ذِكْرُاللهُ

“Segala sesuatu ada alat pembersihnya dan alat pembersih hati yaitu mengingat Allah”.


Cara agar hati kita bisa berdzikir menyebut Allah mempelajari ilmu hati yang lazim disebut dengan beberapa nama di antaranya: ilmu batin, ilmu hakikat, ilmu tarekat. Tujuan mempelajari ilmu hati adalah untuk mengenal Allah, sebab hati merupakan sarana yang telah ditetapkan oleh Allah untuk dapat mengenalnyaNya sebagaimana firman Allah:

مَاكَذَبَ الْفُؤَادُ مَارَآى

“Tidak dusta apa yang telah dilihat oleh mata hati”. (Q.S. An-Najm: 11)

            Jadi hanya dengan mempelajari ilmu hatilah kita baru dapat mengenal Allah. Apabila kita telah dapat mengenal Allah, barulah kita dapat mengingat-Nya. Dan mengingat Allah/menyebut Allah merupakan satu-satunya cara untuk membersihkan hati.


Ketiga, mengapa orang yang mensucikan hatinya disebut orang yang beruntung? karena sesungguhnya hanya orang-orang yang telah mensucikan hatinyalah yang dapat mengenal Allah/menyebut Allah 


Menurut al-Ghazali hati manusia berfungsi sebagai cermin yang hanya bisa menangkap cahaya ghaib (Allah) apabila tidak tertutup oleh kotoran-kotoran hawa nafsu dunia setan tamak rakus iri hati dengki ujub sombong/takabur sum'ah riya munafik fasik Ingkar dll Sesungguhnya hanya orang-orang yang telah mensucikan hatinyalah yang dapat mengenal Allah dan merekalah yang disebut sebagai orang-orang yang beruntung.


Keempat, apa keuntungan yang diperoleh oleh orang yang telah mensucikan hatinya? 

Keuntungannya dapat mengenal Tuhannya/menyebutnya. Allah berfirman:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّهَا وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّهَا

“Beruntunglah orang yang telah mensucikan hatinya dan merugilah orang yang telah mengotorinya”. (Q.S. 91 As-Syamsi: 9-10)


Itulah sebabnya pada ayat di atas Allah memuji orang-orang yang telah mensucikan hatinya, sebab hanya orang-orang yang telah mensucikan hatinya yang dapat mengenal Allah. Adapun orang-orang yang mengotorinya adalah orang-orang yang merugi, karena sesungguhnya orang-orang yang hatinya kotor tidak akan pernah dapat mengenal Tuhannya/menyebutnya


2. Kewajiban Mengingat Allah

            Kewajiban yang kedua adalah mengingat Allah. Allah berfirman 

Di dalam Al-qur'an Alloh berfirman :

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ

Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.(Q.S.Al-A'raaf:205).


Agar hati kita bisa berdzikir kita harus belajar kepada orang yang telah dapat beserta Allah sebagaimana sabda Nabi:

كُنْ مَعَ اللهُ وَاِنْ لَمْ تَكُنْ مَعَ اللهِ فَكُنْ مَعَ مَنْ كَانَ مَعَ اللهِ فَإِنَّهُ يُوْصِلُكَ اِلَى اللهِ

“Sertakanlah kepada Allah, apabila kamu tidak dapat beserta Allah maka sertakanlah dirimu kepada orang yang telah serta Allah, maka ia akan mengenalkan kamu kepada Allah”.

            Berdasarkadalahv penjelasan hadits di atas, maka kewajiban pertama bagi manusia ad mencari guru (wasilah) agar ia dapat memperoleh pengenalan kepada Tuhannya dan akhirnya bisa mengingat Tuhan-Nya (menyebut Allah )


3. Kewajiban Mengerjakan Shalat

            Shalat merupakan tiang agama yang dilaksanakan apabila kita telah melaksanakan kewajiban pertama dan kedua, sebab tujuan shalat adalah untuk mengingat Allah sebagaimana firman Allah:

اِنَّنِى أَنَااللهُ لاَإِلَهَ اِلاَّ أَنَا فَاعْبُدْنِى وَأَقِمِ الصَّلَوةَ لَذِكْرِى

“Sesungguhnya Aku inilah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku”. (Q.S. 20 Thaha: 14)


Dari penjelasan di atas dapatlah kita ketahui mengapa para sufi menaruh perhatian besar terhadap hati (qalb) dan menempatkan shalat sebagai kewajiban ketiga. Karena sesungguhnya perintah shalat itu diterima setelah terlebih dahulu Jibril mensucikan hati Nabi Muhammad sebelum ia menghadap Allah. Sebab Allah itu tidak dapat dilihat oleh mata kepala Nabi Muhammad tetapi hanya dapat dilihat oleh mata hati Nabi Muhammad. Oleh sebab itu sebelum Nabi Muhammad berjumpa dengan Allah, terlebih dahulu Jibril mensucikan hatinya, agar nur yang ada di dalam mata hatinya itu dapat memancar, sebab dengan nur itulah Nabi Muhammad dapat menyaksikan Allah. Itulah sebabnya di dalam surah al-Isra’ ayat 1 Allah menggunakan kalimat Maha Suci, sebab Allah itu Maha Suci dan hanya dapat dilihat oleh hamba-hamba-Nya apabila mereka telah mensucikan hati mereka.

            Adapun makna Jibril mensucikan hati pada hakikatnya adalah sesungguhnya Malaikat Jibril menyampaikan pengenalan kepada Allah dalam istilah ilmu tarekat lazim disebut dengan bai’at. Praktik bai’at yang diterima oleh Nabi dari gurunya Malaikat Jibril diteruskan kepada Ali ibn Abi Thalib dan praktik seperti ini terus berlanjut dari guru ke murid dalam rangkaian silsilah hingga saat ini. Praktik bai’at yang diterapkan di kalangan ahli tarekat sesungguhnya mengacu pada pola yang dilaksanakan oleh Nabi. Jadi berdasarkan tradisi bai’at inilah muncul istilah bahwa “Barangsiapa yang tidak mempunyai syekh/mursyid. maka gurunya adalah setan” sebab Nabi sendiri tidak dapat mengenal Allah

tanpa berguru kepada Malaikat Jibril, apalagi kita sebagai manusia biasa yang hina dan dhaif yang tidak mempunyai kedudukan apa-apa di sisi Allah maka mustahil dapat mengenal Allah tanpa guru. 

            Dari penjelasan Hadis di atas dapatlah kita ketahui bahwa tidak hanya para sufi yang menaruh perhatian besar terhadap hati, bahkan Nabi sendiri lewat Hadisnya secara tegas menyatakan keutamaan ilmu hatilah manusia dapat mengenal Allah.

Namun saat ini mungkin masih banyak umat Islam yang belum mau mempelajari ilmu hati maka Allah berfirman 

فَوَيْلٌ لِلْقَسِيَةِ قُلُوْبُهُمْ مِنْ ذِكْرِاللهِ أُلَئِكَ فِى ضَلَلٍ مُّبِيْنٍ

“Maka celakalah bagi orang yang hatinya tidak dapat mengingat Allah, mereka itu dalam kesesatan yang nyata”. (Q.S. 39 az-Zumar: 22)


Demikianlah celaan Allah terhadap orang-orang yang tidak dapat mengingat Allah/menyebut Allah, yang kesemuanya itu disebabkan karena mereka tidak mempelajari soal hati. Namun kebanyakan umat Islam saat ini tidak tahu kalau mereka itu tidak tahu. Mereka menganggap bahwa amal ibadah mereka, tauhid mereka telah sempurna, padahal sesungguhnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata. Sesungguhnya orang-orang yang bertauhid di sisi Allah adalah orang-orang yang telah mempelajari ilmu hati sehingga hatinya bisa berdzikir menyebut Allah. Jadi sesungguhnya orang-orang yang tidak mempelaja ri ilmu hati adalah orang-orang yang bertauhid di sisi manusia tetapi sesungguhnya ingkar di sisi Allah, sebab tauhid mereka hanya di lidah, namun hatinya tidak pernah menyebut Allah. Mereka menganggap bahwa dengan mengucap dua kalimah syahadat dan percaya dalam hati berarti telah Islam dan beriman di sisi Allah. Padahal keislaman dan keimanan mereka itu barulah sebatas percaya kepada Allah. Oleh sebab itu orang-orang yang mengabaikan atau tidak mempelajari ilmu hati (ilmu tarekat) sesungguhnya adalah orang-orang yang mengabaikan tauhid.

            Dari uraian di atas dapatlah kita ketahui betapa pentingnya mempelajari ilmu hati (ilmu tarekat) dan ilmu tauhid yang sesungguhnya adalah dengan mempelajari ilmu hati (ilmu tarekat) sehingga hatinya bisa menyebut Allah sampai pisahnya jasad dengan ruh kita 


11 GOLONGAN MANUSIA YANG DILIHAT OLEH NABI MUHAMMAD SAW DALAM PERJALANAN ISRA MI'RAJ 


1. Nabi melihat beberapa orang yang menanam dan sekaligus panen pada satu hari yang sama. Setiap kali selesai panen, tanaman kembali lagi untuk siap dipanen begitu seterusnya.


“Apa itu, wahai Jibril?” tanya Nabi kepada Jibril.


Jibril menjawab “Mereka adalah orang-orang yang pernah berjihad/orang-orang yang dermawan pada jalan Allah sehingga balasan untuk satu amal kebajikan mereka dilipatgandakan menjadi tujuh ratus kali. Dan harta yang pernah mereka sumbangkan diganti oleh Allah,” jawab Jibril.


2. Nabi melihat orang yang berpegang teguh pada agama Allah.

Mendadak Nabi mencium aroma yang sangat harum. 

“Aroma apa ini, wahai Jibril?” tanya Nabi kepada Jibril.

Jibril menjawab Ini adalah aroma Masyithah binti Firaun dan putra-putranya,” 

Dikisahkan pada suatu hari ketika Masyithah sedang menyisiri putri Firaun, tiba-tiba sisirnya terjatuh.

“Dengan menyebut nama Allah, celakalah Fir‘aun,” kata Masyithah dengan spontan.

“Jadi Anda punya Tuhan selain ayahku, ya?” tanya si kecil putri Fir‘aun.

Ya,” jawab Masyithah berterus terang.

“Kalau begitu, apakah aku boleh memberitahukan hal ini kepada ayahku?” tanyanya.

“Boleh,” jawab Masyithah dengan jujur.

Anak kecil tersebut kemudian memberitahukan hal itu kepada ayahnya.

Seketika Masyithah dipanggil Fir‘aun.

“Benarkah kamu punya Tuhan selain aku?” tanya Fir‘aun.

Benar, Tuhanku dan Tuhan Anda adalah Allah," jawab Masyithah.


Masyithah punya dua orang anak dan seorang suami.


Fir‘aun menyuruh untuk mendatangkan mereka.


Ia membujuk Masyithah dan suaminya supaya mereka keluar dari agama Islam.

Tetapi Masitoh dan suaminya menolaknya 


“Bagaimana kalau aku membunuh kalian berdua?” tanya Fir‘aun mengancam.

“Baik, silahkan saja terserah Anda. Tetapi tolong nanti kuburkan mayat kami di dalam satu liang lahat,” jawab Masyithah.

“Baik, akan aku penuhi permintaanmu itu,” kata Fir‘aun.


Fir‘aun kemudian menyuruh untuk membawakan sebuah baskom berukuran sangat besar yang terbuat dari timah.


Setelah dipanaskan dengan air yang sangat mendidih, ia menyuruh Masyithah dan keluarganya untuk memasukinya.


Satu persatu mereka memasuki bejana tersebut.


Dan ketika tiba giliran anak bungsunya yang masih menyusu, tiba-tiba ia berkata:


“Wahai Bunda, ayo masuklah dan jangan ragu-ragu karena Anda di pihak yang benar.”


Tak pelak, Masyithah dan keluarganya pun semua masuk ke dalam bejana dari timah berisi air yang sangat mendidih tersebut


3. Nabi melihat beberapa orang yang tengah memecahkan kepala sendiri. Dan setelah memar sampai hancur, keadaannya kembali lagi seperti semula.


Hal itu terus mereka lakukan tanpa bosan-bosan sedikit pun.


“Siapa mereka, wahai Jibril?” tanya Nabi.


“Mereka adalah orang-orang yang kepalanya terasa berat untuk sholat fardhu,” jawab Jibril.


4. Nabi melihat orang yang tidak mau berzakat.


Kemudian Nabi mendapati beberapa orang yang tubuhnya bagian depan maupun bagian belakang sama-sama tambahan.


Mereka sedang digembalakan laksana sekawanan unta dan domba.


Mereka memakan buah dhari‘, buah zaqqum, dan batu-batu dari neraka Jahanam.


“Siapa mereka, wahai Jibril?” tanya Nabi.


“Mereka adalah orang-orang yang tidak mau menunaikan zakat hartanya dan Allah sama sekali tidak berbuat zalim kepada mereka,” jawab Jibril.


5) Nabi melihat orang yang berzina.


Selanjutnya Nabi mendapati beberapa orang yang di depan mereka ada daging matang di dalam sebuah periuk.


Di dekat mereka juga ada daging busuk.


Mereka justru memilih memakan daging yang busuk dan membiarkan daging yang matang.


“Siapa mereka, wahai Jibril?” tanya Nabi.


“Mereka adalah termasuk umat Anda yang sebenarnya mereka sudah memiliki seorang istri baik-baik dan halal tapi mereka justru lebih suka memilih menggauli wanita pelacur. Bahkan menginap di rumahnya sampai pagi,” jawab Jibril.


6. Nabi melihat para perampok.


Selanjutnya Nabi mendapati sebilah papan kayu di tepi jalan yang selalu membuat robek pakaian setiap orang yang melewatinya.


“Apa itu, wahai Jibril?” tanya Nabi.


“Itu adalah seperti perumpamaan beberapa orang dari umat Anda yang gemar duduk-duduk iseng di pinggir jalan untuk mengganggu orang lain yang lewat. Mereka suka menghalang-halangi dari jalan Allah,” jawab Jibril.


7. Nabi melihat pemakan harta riba.


Selanjutnya Nabi melihat seseorang yang sedang berenang di sebuah sungai darah seraya menelan batu.


“Apa itu, wahai Jibril?” tanya Nabi.


“Itu adalah seperti perumpamaan seseorang yang suka memakan harta riba,” jawab Jibril.


8. Nabi melihat orang-orang yang rakus jabatan dan takhta.


Selanjutnya Nabi mendapati seseorang yang tengah mengumpulkan setumpuk kayu bakar yang tidak kuat dipikulnya tapi ia justru terus menambahinya.


“Apa itu, wahai Jibril?” tanya Nabi.


“Itu adalah seseorang dari umat Anda yang mendapat beberapa amanat dari orang lain. Sebenarnya ia sudah tidak sanggup mengembannya tapi masih terus meminta amanat-amanat yang lain,” jawab Jibril.


9. Nabi melihat para mubalig yang tidak mengamalkan ucapannya dan suka menebar fitnah.


Selanjutnya Nabi mendapati beberapa orang yang sedang menggunting bibir dan lidah.


Setiap kali sudah tergunting bibir dan lidahnya itu kembali utuh lagi seperti sedia kala tanpa ada bekas luka, dan begitu seterusnya.


“Siapa mereka, wahai Jibril?” tanya Nabi.


“Itu adalah para mubalig yang suka menebarkan fitnah. Mereka itu termasuk umat Anda yang pandai mengatakan apa yang tidak mereka lakukan,” jawab Jibril.


10. Nabi melihat para pengumpat.


Selanjutnya Nabi mendapati beberapa orang yang memiliki kuku terbuat dari timah yang mereka gunakan untuk mencakar-cakar muka dan dada mereka sendiri.


“Siapa mereka, wahai Jibril?” tanya Nabi.


“Mereka adalah orang-orang yang suka memakan daging orang lain dan suka menyerang kehormatan-kehormatannya,” jawab Jibril.


11. Nabi melihat orang bercakap besar dan provokator.


Selanjutnya Nabi mendapati seonggok batu kecil yang mengeluarkan seekor sapi berukuran sangat besar.


Setiap kali si sapi berusaha ingin kembali masuk dari tempat di mana ia keluar namun tidak mampu.


“Siapa orang itu, wahai Jibril?” tanya Nabi.


“Ia adalah seseorang dari umat Anda yang suka berbicara dengan kata-kata besar. Belakangan ia menyesalinya tapi ia tidak sanggup menariknya kembali,” jawab Jibril.


Rasulullah sepulangnya dari perjalanan Isra Mi'raj

 juga menceritakan golongan wanita ahli neraka yaitu :


1. Rasulullah melihat wanita yang disiksa dineraka yaitu wanita yang suka berzina. Di dekat mereka ada daging yang baik dan ada daging yang busuk, Mereka memakan daging yang busuk dan meninggalkan daging yang baik.


2. Rasulullah melihat Wanita yang kufur terhadap kebaikan suami

Rasulullah memberitahukan bahwa mayoritas penduduknya adalah wanita, karena mereka kufur terhadap kebaikan suami.


وَرَأَيْتُ النَّارَ فَلَمْ أَرَ كَالْيَوْمِ مَنْظَرًا قَطُّ وَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ. قَالُوا: لِمَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: بِكُفْرِهِنَّ. قِيْلَ: يَكْفُرْنَ بِاللهِ؟ قَالَ: يَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ وَيَكْفُرْنَ اْلإِحْسَانَ، لَوْ أَحْسَنْتَ إِلىَ إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ، ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ

“Dan aku melihat neraka. Aku belum pernah sama sekali melihat pemandangan seperti hari itu. Aku lihat ternyata mayoritas penghuninya adalah para wanita.”

Mereka bertanya, “Mengapa para wanita menjadi mayoritas penghuni neraka, ya Rasulullah?”

Beliau menjawab, “Disebabkan kekufuran mereka.” Ada yang bertanya kepada beliau, “Apakah para wanita itu kufur kepada Allah?” Beliau menjawab, “(Tidak, melainkan) mereka kufur kepada suami dan mengkufuri kebaikan (suami).

Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang istri kalian pada suatu waktu, kemudian suatu saat ia melihat darimu ada sesuatu (yang tidak berkenan di hatinya) niscaya ia akan berkata, ‘Aku sama sekali belum pernah melihat kebaikan darimu’.” (HR. Bukhari dan Muslim)


3. Rasulullah melihat Wanita yang suka ikhtilat

Ikhtilat merupakan bercampur baurnya pergaulan antara laki-laki dan perempuan, sedangkan perbuatan tersebut termasuk salah satu dosa mendekati perbuatan zina karena ketidak mahraman.

Mereka disiksa di neraka dengan digantung di bagian payudaranya.


4. Rasulullah melihat Wanita yang suka membicarakan aib orang lain / ghibah disiksa disiksa di neraka dengan memakan bangkai-bangkai busuk manusia.


Demikian semoga bermanfaat