الجمعة، 8 يوليو 2022

Khutbah Idul Adha


 KHUTBAH IDUL ADHA
Ketauhidan Mengangkat Derajat Umat Manusia
Khutbah pertama :
اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (×3) اللهُ اَكبَرْ (×3 اللهُ اَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالحَمْدُ لِلّهِ بُكْرَةً وَأصِيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَ للهِ اْلحَمْدُ اللهُ اَكْبَرْ ماتحرك متحرك وارتـج. ولبى محرم وعـج. وقصد الحرم من كل فـج. وأقيمت فى هذا الأيام مناسك الحج. اللهُ اَكْبَرْ (3×) اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ اْلمَلِكُ اْلعَظِيْمُ اْلاَكْبَرْ وَاَشْهَدٌ اَنَّ سَيِّدَناَ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ ومن تبع دين محمد. وسلم تسليما كثيرا. فياايها المسلمون الكرام. اوصيكم ونفسى بتقوى الله. واعلموا أن هذا الشهر شهر عظيم. وأن هذاليوم يوم عيد المؤمين. يوم خليل الله إبراهيم أبو ألانبياء والمرسلين. اَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَاللهِ اِتَّقُوااللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
Hadirin Jama’ah Idul Adha Rahimakumullah,Alhamdulillah pagi ini kita dapat berkumpul menikmati indahnya matahari, sejuknya hawa pagi sembari mengumandangkan takbir mengagungkan Ilahi Rabbi dirangkai dengan dua raka’at Idul Adha sebagai upaya mendekatkan diri kepada Yang Maha Suci. Marilah kita bersama-sama meningkatkan taqwa kita kepada Allah swt dengan sepenuh hati. Kita niatkan hari ini sebagai langkah awal memulai perjalanan diri mengarungi kehidupan seperti yang tercermin dalam keta’atan dan ketabahan Nabi Allah Ibrahim as menjalani cobaan dari Allah Yang Maha Tinggi.
Muslimin dan Muslimat yang dimuliakan AllahHari ini ini adalah hari yang penuh berkah, hari yang sangat bersejarah bagi umat beragama di seluruh penjuru dunia, dan bagi umat muslim pada khususnya. Karena hari ini merupakan hari kemenangan seorang Nabi penemu konsep ke-tuhidan dalam berketuhanan. Sebuah penemuan maha penting dijagad raya, tak tertandingi nilainya dibandingkan dengan penemuan para santis dan ilmuan. Karena berkat konsep ke-tauhidan yang ditemukan Nabi Allah Ibrahim, manusia dapat menguasai alam dengan menjadi khalifah alal ardh. Setelah Nabi Allah Ibrahim as menyadari bahwa Allah swt adalah The Absolute One, Dzat yang paling Esa, maka semenjak itu juga umat manusia tidak dibenarkan menyembah matahari, menyembah bintang, menyembah binatang, menyembah batu dan alam. Ini artinya manusia telah memposisikan dirinya di atas alam. Ajaran ke-Esa-an yang diprakarsai oleh Nabi Allah Ibrahim telah mengangkat derajat manusia atas alam se-isinya.Ma’asyiral Muslimin RahimakumullahSesungguhnya tidak berlebihan jika hari ini kita jadikan sebagai salah satu hari besar kemanusiaan internasional yang harus diperingati oleh manusia se-jagad raya. Oleh karena itu hari ini adalah momen yang tepat untuk mengenang perjuangan Nabi Allah Ibrahim as dan upayanya menemukan Allah swt. Bagaimana beliau bersusah payah melatih alam kebathinannya untuk mengenal Tuhan Allah Yang Paling Berkuasa. Bukankah itu hal yang amat sangat rumit? Apalagi jika kita membandingkan posisi manusia sebagai makhluk yang hidup dalam dunia kebendaan, sedangkan Allah Tuhan Yang Maha Sirr berada ditempat yang tidak dapat dicapai dengan indera? Bagaimana Nabi Allah Ibrahim bisa menemukan-Nya? Tentunya melalui berbagai jalan thariqah yang panjang. Melalui latihan dan penempaan jiwa yang berat. Untuk itulah mari kita lihat rekaman tersebut dalam surat Al-An’am ayat 75-79
وَكَذَلِكَ نُرِي إِبْرَاهِيمَ مَلَكُوتَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلِيَكُونَ مِنَ الْمُوقِنِينَ(75) فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَى كَوْكَبًا قَالَ هَذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَا أُحِبُّ الْآفِلِينَ (76)فَلَمَّا رَأَى الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَئِنْ لَمْ يَهْدِنِي رَبِّي لَأَكُونَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّالِّينَ (77)فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَذَا رَبِّي هَذَا أَكْبَرُ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ(78) إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ (79)
Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin. (75)Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: "Inilah Tuhanku", tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: "Saya tidak suka kepada yang tenggelam “ (76)Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: "Inilah Tuhanku". Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat." (77)Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: "Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar". Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (78)
Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan (79)
Para Hadirin yang dimuliakan AllahJika kita lihat dokumen sejarah yang termaktub dalam al-Qur’an di atas, hal ini menunjukkan betapa proses pencarian yang dilakukan Nabi Allah Ibrahim as sangatlah berat. Meskipun pada akhirnya Nabi Ibrahim berhasil menemukan Tuhan Allah Rabbil Alamin, bukan tuhan suku dan bangsa tertentu, tapi Tuhan seru sekalian alam. Tuhan yang senantiasa berada sangat dekat dengan manusia baik ketika terpejam maupun ketika terjaga. Itulah sejarah terbesar yang dipahatkan oleh Nabi Allah Ibrahim di sepanjang relief kehidupan umat manusia yang seharusnya selalu dikenang oleh umat beragama.
Selain sebagai orang yang menemukan konsep Ketuhaan. Beliau juga salah satu hamba tersukses di dunia yang mampu menaklukkan nafsu dunyawi demi memenangkan kecintaannya kepada Allah Sang Maha Suci. Fragmen ketaatan dan keikhlasannya untuk menyembelih Ismail sebagai anak tercinta yang diidam-idamkannya, adalah bukti kepasrahan total kepada Allah swt. Bayangkan saudara-saudara, Ismail adalah anak yang telah lama dinanti dan diidamkan, Ismail adalah anak tercintanya namun demikian semua itu ditundukkan oleh Nabi Ibrahim as demi memenangkan cintanya kepada Allah swt.Ma’asyiral Muslimin RahimakumullahDua hal di atas yaitu penemuan Ibrahim atas ke-Esaan Allah dan perintah penyembelihan terhadap anak tercinta merupakan satu perlambang bahwa ruang di mana Nabi Allah Ibrahim as. hidup adalah garis batas yang memisahkan antara kehidupan brutal dan kehidupan berpri-kemanusiaan. Penyembelihan terhadap Ismail yang kemudian diganti dengan kambing merupakan tanda bahwa semenjak itu tidak ada lagi proses penyembahan dengan cara pengorbanan manusia (sesajen). Karena manusia adalah makhluk mulia yang tak pantas dikorbankan secara cuma-cuma, meskipun dilakukan dengan suka rela. Allah swt sendiri yang tidak memperbolehkannya, dengan Kuasa-Nya ia ganti Ismail dengan seekor kambing. Itulah beberapa hal yang harus dikenang dari Nabi Allah Ibrahim as. Sebagai umat manusia yang beriman dan beragama sudah sewajibnya kita mengenang dan menteladani apa yang dilakukan Nabi Allah Ibahim as seperti yang diterangkan dalam al-Baqarah 127:
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): "Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui
Dengan kata lain Allah swt menganjurkan manusia untuk mengingat dan meneladai kehidupan Ibrahim terutama ketika Nabi Allah Ibrahim as merawat dan merekontruksi ka’bah sebagai baitullah. Sehingga berbagai ibadah dan ritual peyembahan kepada Allah swt menjadi kewajiban bagi umat muslim sedunia yang mampu menjalankannya. Itulah ibadah Haji.
Para Jama’ah idhul adha yang berbahagiaHaji meupakan salah satu ibadah yang sarat dengan simbol dan perlambang. Oleh karena itu, jikalau ibadah haji dilaksanakan tanpa mengerti makna yang tersimpan didalamnya sangatlah percuma, karena yang demikian itu hanya menyisakan kelelahan belaka. Kelelahan yang kerontang tanpa kesadaran.
Kaum muslimin dan muslimat, meskipun saat ini kita berada di sini, jauh dari tanah Haram, tidak berarti kita tidak bisa meneladani Nabi Ibrahim. Karena keteladanan itu tidaklah bersifat fisik. Namun sejatinya keteladanan itu berada dalam semangat yang tidak mengenal batas ruang dan waktu. Keteladanan atas ibadah haji dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari ketika kita berinteraksi dengan tetangga, teman, saudara dan umat manusia pada umumnya.Saudara-saudaraku seiman dan setaqwa
Bila kita tengok bahwa haji dimulai dengan niat yang dibarengi dengan menanggalkan pakaian sehari-hari untuk digantikan dengan dua helai kain putih yang disebut dengan busana ihram. Maka ketahuilah dibalik keseragaman ini tersimpan beragam makna. Pertama bahawa pakaian yang selama ini kita pakai sehari-hari sangat menunjukkan derajat dan status sosil manusia. Oleh karena itu, ketika seorang muslim telah berniat untuk haji dan berniat menghadap-Nya maka segeralah tanggalkan pakaian itu dan gantilah dengan busana Ihram yang serba putih, karena manusia di hadapan Ilahi Rabbi sejatinya tidak berbeda.
Kedua, Pakaian itu tidak hanya apa yang kita pakai namun juga identitas yang menyelimuti diri manusia hendaknya segera diluluhkan ketika menghadap-Nya. Allah tidak akan pernah membedakan antara peabat dan rakyat, antar penguasa dan hamba, antara pedagang dan nelayan. Semua itu dimata Allah swt adalah sama. Seperti putihnya seragam yang membalut raga.
المسلمون إخوة لافضل لأحد على أحد إلابالتقوى (رواه الطبرانى)
Artinya, orang-orang Islam itu satu sama lain bersaudara, tiada yang lebih utama seorangpun dari seorang yang lain, melainkan karena taqwanya (HR. Tabhrani)
Ketiga, Pakaian itu adalah sifat manusia. Ketika seorang muslim telah berniat menghadap Allah Sang Maha Kuasa, hendaklah ia mencopot segala identitasnya. Baik identitas sebagai tikus, buaya, serigala ataupun identitas sebagai kupu-kupu, merpati ataupu kasuwari. Artinya, segala macam sifat yang melekat baik negative maupun positif sebaiknya dihilangkan. Jangan pernah merasa sebagai apa-apa jikalau engkau menghadap-Nya.
Keempat, pakaian itu mengingatkan manusia akan ketakberdayaannya. Nanti ketika menghadap Ilahi Rabbi manusia tidak membawa apa-apa kecuali kain putih yang menemaninya. Sebagai pertanda bahwa sebaiknya manusia hidup dengan sederhana, karena semua akan ditinggalkannya.
Ma’asyiral Muslimin RahimakumullahSelanjutnya Thowaf mengelilingi ka’bah tujuh kali putaran adalah perlambang kedekatan manusia dengan Sang Khaliq. Begitu harunya jiwa manusia ketika lebur mendekatkan diri pada Baitullah, seolah ke-dirian manusia hilang ditelan kebesaran-Nya. Thowaf dapat diartikan hilangnya diri terhanyut dalam pusaran Energi keilahiyan yang tak terkira. Thowaf adalah simbol hablum minallah yang hakiki, bahkan lebih dari itu. Tidak ada lagi habl penghubung antara manusia dan Sang Khaliq. Karena keduanya telah menyatu.Kemudian sa’i berlari kecil dari shofa ke marwah. Ini merupakan rangkaian setelah Thowaf yang dapat diartikan sesuai perspketif sejarah. Ketika Siti Hajar Ibunda Nabi Ismail ditinggal oleh Nabi Allah Ibrahim as. Maka ia pun harus bertarung mempertahankan hidup ini dengan mencari air dari bukit Shofa ke Marwa. Kehidupan sarat dengan perjuangan. Usaha menjadi suatu kewajiban bagi manusia. Tiada air yang turun dari langit, namun air itu harus dicari sumbernya. Begitulah kehidupan di dunia ini. Hidup itu suci dan harus dijaga seperti makna hafiah kata Shofa yaitu kemurnian dan kesucian sedangkan. Namun hidup itu juga cita-cita yang jumawa dan penuh idealism seperti makna kata marwa yaitu kemurahan, memaafkan dan menghargai.
Jika thowaf menggambarkan hubungan dan kemanunggalan manusia dengan Sang Khaliq, maka sa’i menunjukkan bahwa kehidupan haruslah dijalani sesuai dengan hukum kemanusiaan. Berinteraksi, berhubungan dan berkomunikasi dengan sesame. Maka kehidupan ini haruslah menyeimbangkan antara keilahiyahan dan keinsaniyahan.
Ma’asyiral Muslimin yang berbahagiaSelain itu simbolisme dalam ibadah haji juga melekat pada Ka’bah Baitullah. Di sana ada hijir Ismail yang berarti ‘pangkuan Ismail’. Di sanalah seorang Ismail putera Ibrahim yang membangun Ka’bah pernah berada dalam pangkuan sang Ibu Hajar, seorang wanita hitam yang miskin juga seorang budak. Dengan ini Allah swt membuktikan bahwa seorang hamba pun dapat dimuliakanya dengan memposisikan kuburnya disamping ka’bah baitullah. Itu semua karena ketaqwaannya. Ketaqwaan Ibu Hajar yang mampu berhijrah menuju kebaikan dan kemuliaan.
Sedangkan padang Arafah sebagai tempat para haji menunaikan wuquf merupakan ruang luas yang terhampar untuk memasak diri seorang muslim hingga ia mengenal siapa jati dirinya sebagai manusia. Arafah adalah ruang berintrospeksi diri, siapa, dari mana sosok diri itu dan hendak kemana nantinya. Oleh karena itu ruang ini dinamakan arafah yang mempunyai satu asal kata yang sama dengan ma’rifat yaitu mengeatuhi dan mengerti hakikat diri. Diharapkan setelah diramu dalam padang arafah ini seorang diri bisa menjadi lebih arif (bijaksana) dalam mengarungi kehidupan dan mempertimbangkan antara kepentingan dunia dan akhirat seperti yang disimbolkan dalam thowaf dan sa’i.
Dari Arafah menuju Muzdalifah guna mempersiapkan diri dan mempersenjatainya melawan syaithan yang akan dihadapi nanti di Mina. Manusia haruslah selalu waspada bahwa syaitan ada dimana-mana. Karena itulah senjata pemusnahnya tidaklah sesuatu yang besar dan menakutkan. Tetapi cukup dengan kerikil yang kecil sebagai simbol atas kesabaran dan keteguhan hati.
Ma’asyiral MusliminDemikianlah uraian dalam khutbah ini semoga ada manfaatnya bagi kita semua. Dan amrilah kita berdoa kepada Allah swt semoga amal ibadah kita diterima. Semoga kita yang disini diberikan kesempatan mengunjungi tanah haram di lain waktu, seperti cita-cita kita semua. Dan semoga mereka yang berada di sana diberi keselamatan semua. Amien
أعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطنِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ. إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُبَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلْ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ. فَاسْتَغْفِرُوْا اِنَّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
KHUTBAH KEDUA:
اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (4×) اللهُ اَكْبَرْ كبيرا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَ أَصْيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدُاَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا
اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ
اللهِ اَكْبَرْ

الخميس، 7 أبريل 2022

IMSAK MASIH BOLEHKAH MAKAN?

IMSAK MASIH BOLEHKAH MAKAN?

Hukum Imsak sebelum Adzan Beberapa Penjelasan tentang imsakiyah....... Masyarakat selama ini bukan tidak mengerti kata imsak secara harfiah yang tidak lain adalah puasa itu sendiri. Tetapi masyarakat Indonesia meminjam kata imsak untuk idiom baru yang merujuk pada penahanan diri lima, sepuluh, atau lima belas menit sebelum subuh. Dari sini kemudian kata imsak tidak lagi diartikan oleh masyarakat kita secara harfiah, tetapi secara idiomatis seperti yang lazim dipahami. Pemakaian kata imsak untuk konsep dan pengertian baru itu bukan menjadi tanda bahwa masyarakat salah paham atau salah kaprah terhadap kata imsak karena mereka juga masih memahami kata imsak secara harfiah saat mengaji fikih puasa. Masyarakat tetap memahami bahwa dalam masa imsak orang masih tetap boleh makan. Artinya, masyarakat memahami kata imsak secara idiomatis, bukan harfiah dalam arti puasa seperti keterangan Fathul Mu‘in berikut ini: ويجوز الأكل إذا ظن بقاء الليل باجتهاد أو إخبار وكذا لو شك لأن الأصل بقاء الليل لكن يكره ولو أخبره عدل طلوع الفجر اعتمده وكذا فاسق ظن صدقه Artinya, “Makan masih dibolehkan bila menduga keberadaan malam berdasarkan ijtihad atau kabar dari seseorang. Demikian juga (masih dibolehkan makan) bila seseorang ragu karena pada asalnya malam masih ada. Tetapi (makan) makruh. Kalau orang terpercaya mengabarkan terbit fajar kepadanya, maka ia harus mempercayainya. Sama halnya (ia harus mempercayai) orang fasik yang diduga keras kejujurannya,” (Syakh Zainuddin Al-Malibari, Fathul Mu‘in pada hamisy I‘anatut Thalibin, [Beirut, Darul Fikr: 2005 M/1425 H-1426 H], juz II, halaman 265-266). Syekh Bakri Syatha lalu menjelaskan bahwa dalam masa imsak itu masih diperbolehkan bagi seseorang untuk memulai atau menuntaskan hidangan sahurnya karena malam memang masih ada. قوله ويجوز الأكل) أي للتسحر... (قوله وكذا لو شك) أي وكذلك يجوز الأكل إذا شك في بقاء الليل قال سم وهذا بخلاف النية لا تصح عند الشك إلا إن ظن بقاءه باجتهاد صحيح كما علم مما تقدم في بحث النية وما في حواشيه لأن الشك يمنع النية اه Artinya, “(Boleh makan) makan sunah sahur, (demikian jika seseorang ragu), maksudnya demikian juga boleh makan sahur bila seseorang ragu perihal keberlangsungan malam. Tetapi Bujairimi mengatakan bahwa hukum ini tidak berlaku untuk niat karena niat tidak sah dalam keraguan kecuali jika dia menduga malam masih ada dengan ijtihad yang benar sebagaimana telah dikaji perihal niat dan pada hasyiyahnya karena keraguan mencegah niat,” (Lihat Syakh Zainuddin Al-Malibari, Fathul Mu‘in pada hamisy I‘anatut Thalibin, [Beirut, Darul Fikr: 2005 M/1425 H-1426 H], juz II, halaman 265). Konsep imsak dalam pengertian masyarakat bukan berangkat dari ketidaktahuan akan agama. Konsep ini lahir dari sikap kewaspadaan dan kehati-hatian mereka dalam mengamalkan ajaran agama yang mereka yakini. Mereka lebih memilih langkah antisipasi atau ihtiyath sebagai peringatan Fathul Mu‘in berikut ini. ولو أكل باجتهاد أولا وآخرا فبان أنه أكل نهارا بطل صومه إذ لا عبرة بالظن البين خطؤه فإن لم يبن شيء صح Artinya, “Kalau seseorang makan sebelum subuh atau setelah maghrib menurut persangkaannya, tetapi ternyata ia makan pada hari sudah atau masih siang, maka batal puasanya. Pasalnya, persangkaan yang jelas-jelas keliru tidak dihitung. Tetapi kalau ternyata persangkaannya tidak meleset, maka sah puasanya,” (Syakh Zainuddin Al-Malibari, Fathul Mu‘in pada hamisy I‘anatut Thalibin, [Beirut, Darul Fikr: 2005 M/1425 H-1426 H], juz II, halaman 266). Masyarakat melakukan ikhtiar-ikhtiar agar tidak terjatuh dalam makruh. Pandangan masyarakat ini bukan tanpa argumentasi. Mereka mendasarkan sikapnya pada penjelasan I‘anatut Thalibin berikut ini: قوله لأن الأصل بقاء الليل) علة لجواز الأكل في صورة الظن وصورة الشك (قوله لكن يكره) أي لكن يكره الأكل Artinya, “(Pada dasarnya malam masih ada) ini menjadi illat hukum bolehnya makan dalam dugaan dan keraguan. (Tetapi) makan ketika itu (makruh),” (Lihat Syakh Zainuddin Al-Malibari, Fathul Mu‘in pada hamisy I‘anatut Thalibin, [Beirut, Darul Fikr: 2005 M/1425 H-1426 H], juz II, halaman 265). Jadi, jelas bahwa konsep imsak yang ada di masyarakat Indonesia ini lahir dari sikap kehati-hatian dalam mengamalkan agama.

الثلاثاء، 5 أبريل 2022

30 Fadhilah Sholat Tarawih

30 Fadhilah Sholat Tarawih

30 Keistimewaan (Fadhilah) Salat Tarawih menurut Kitab Durratun Nashihin. 1. Malam pertama عن على بن ابى طالب رضى الله تعالى عنه انه قال سئل النبى عليه الصلاة والسلام عن فضائل التراويح فى شهر رمضان فقال يخرج المؤمن من ذنبه فى اول ليلة كيوم ولدته امه Diriwayatkan dari Ali Bin Abi Thalib RA. bahwa sesungguhnya Ali berkata : Nabi alaihis sholatu was salamu ditanya tentang keutamaan tarowih di bulan romadlon. Maka Nabi menjawab : "Pada malam pertama keluarlah dosa orang mukmin (yang melakukan Salat Tarawih) sebagaimana ibunya melahirkan ia di dunia 2. Malam ke-2 وفى الليلة الثانية يغفر له ولأبويه ان كان مؤمنين Pada malam yang ke 2, orang yang salat tarawih akan diampuni dosanya dan dosa ke-2 orang tuanya jika keduanya mukmin 3. Malam ke-3 وفى الليلة الثالثة ينادي ملك من تحت العرش استأنف العمل غفر الله ما تقدم من ذنبك Pada malam yang ke 3, malaikat dibawah arasy berseru,mulailah melakukan amal kebaikan ( salat tarawih ) maka Allah akan mengampuni dosamu. 4. Malam ke-4 وفى الليلة الرابعة له من الاجر مثل قراءة التورات والانجيل والزبور والفرقان Pada malam yang ke-4, bagi yang melakukan tarawih dapat pahala sebagaimana pahala orang yang membaca kitab taurot,injil,zabur dan Al-Quran. 5. Malam ke-5 وفى الليلة الخامسة اعطاه الله تعالى مثل من صلى فى المسجد الحرام و المسجد المدينة والمسجد الاقصى Pada malam yang ke 5, Allah memberikan pahala bagi yang tarawih sebagaimana pahalanya orang yang salat di Masjidil Haram, Masjid Madinah atau Masjid Nabawi dan Masjidil Aqsha. 6. Malam ke-6 وفى الليلة السادسة اعطاه الله تعالى ثواب من طاف بالبيت المعمور ويستغفر له كل حجر ومدر Pada malam yang ke-6, Allah memberikan pahala pada yang bertarawih sebagaimana pahalanya orang yang thowaf di Baitul Makmur dan setiap batu dan tanah memintakan ampunan padanya. 7. Malam ke-7 وفى الليلة السابعة فكأنما ادرك موسى عليه السلام ونصره على فرعون وهامان Pada malam yang ke-7, yang melakukan tarawih seakan-akan menemui zaman Nabi Musa As dan menolongnya dari serangan Fir'aun dan Haman. 8. Malam ke-8 وفى الليلة الثامنة اعطاه الله تعالى ما اعطى ابراهيم عليه السلام Pada malam yang ke-8, Allah akan memberi anugrah sebagaimana anugrah yang diberikan pada Nabi Ibrahim alaihis salam. 9. Malam ke-9 وفى الليلة التاسعة فكأنما عبد الله تعالى عبادة النبى عليه الصلاة والسلام Pada malam yang ke 9, seolah-olah orang yang tarawih beribadah pada Allah sebagaimana ibadahnya para Nabi alaihis shalatu was salam (As). 10. Malam ke-10 وفى اليلة العاشرة يرزقه الله تعالى خيرى الدنيا والآخرة Pada malam yang ke-10, Allah akan memberi rizki yang lebih bagus didunia maupun akhirat bagi yang tarawih. 11. Malam ke-11 وفى الليلة الحادى عشرة يخرج من الدنيا كيوم ولد من بطن امه Pada malam yang ke-11, orang yang tarawih kelak ia akan keluar dari dunia (mati) seperti hari dimana ia baru dilahirkan dari perut ibunya. 12. Malam ke-12 وفى الليلة الثانية عشرة جاء يوم القيامة ووجهه كالقمر ليلة البدر Pada malam yang ke-12, pada saat hari kiamat datang wajahnya orang yang Salat Tarawih bersinar bagaikan rembulan pada malam purnama. 13. Malam ke-13 وفى الليلة الثالثة عشرة جاء يوم القيامة أمنا من كل سوء Pada malam yang ke-13, pada saat hari kiamat tiba orang yang tarawih akan selamat dari segala macam keburukan. 14. Malam ke-14 وفى الليلة الرابعة عشرة جاءت الملائكة يشهدون له انه قد صلى التراويح فلا يحاسبه الله يوم القيامة Pada malam yang ke-14, malaikat pada menjadi saksi bagi yang Tarawih bahwa ia sudah melakukan sholat tarawih maka Allah tidak menghisabnya besok di hari kiamat. 15. Malam ke-15 وفى الليلة الخامسة عشرة تصلى عليه الملائكة وحملة العرش والكرسى Pada malam yang ke-15, para malaikat dan para Malaikat Penyangga Arasy dan para malaikat penjaga kursi kerajaan langit pada memintakan ampunan pada orang yang Salat Tarawih 16. Malam ke-16 وفى الليلة السادسة عشرة كتب الله له براءة النجاة من النار وبراءة الدخول من الجنة Pada malam yang ke-16, Allah akan mencatat kebebasan selamat dari neraka dan kebebasan masuk surga bagi yang tarawih. 17. Malam ke-17 وفى الليلة السابعة عشرة يعطى مثل ثواب الانبياء Pada malam yang ke-17, yang tarawih akan diberi pahala sebagaimana pahalanya para nabi. 18. Malam ke-18 وفى الليلة الثامنة عشر نادى ملك ياعبد الله ان الله رضى عنك وعن والديك Pada malam yang ke-18, malaikat telah berseru (pada yang tarawih) wahai hamba Allah sesungguhnya telah meridhaimu dan ke-2 orang tuamu. 19. Malam ke-19 وفى الليلة التاسعة عشرة يرفع الله درجاته فى الفردوس Pada malam yang ke-19, Allah akan mengangkat derajat-derajat yang Salat Tarawih di Surga Firdaus. 20. Malam ke-20 وفى الليلة العشرين يعطى ثواب الشهداء والصالحين Pada malam yang ke-20, orang tarawih akan diberi pahala seperti pahala orang-orang yang mati Syahid dan orang-orang saleh. 21. Malam ke-21 فى الليلة الحادية والعشرين بنى الله له بيتا فى الجنة من النور Pada malam yang ke-21, Allah akan membangunkan rumah di surga yang terbuat dari cahaya untuk yang tarawih. 22. Malam ke-22 وفى الليلة الثانية والعشرين جاء يوم القيامة امنا من كل غم وهم Pada malam yang ke-22, jika hari kiamat tiba maka yang tarawih akan selamat dari segala bentuk kesusahan dan kebingungan. 23. Malam ke-23 وفى الليلة الثالثة والعشرين بنى الله له مدينة فى الجنة Pada malam yang ke-23, Allah akan membangunkan kota di dalam surga bagi yang tarawih. 24. Malam ke-24 وفى الليلة الرابعة والعشرين كان له اربع وعشرون دعوة مستجابة Pada malam yang ke-24, orang yang tarawih akan memperoleh 24 doa yang mustajab/manjur. 25. Malam ke-25 وفى الليلة الخامسة والعشرين يرفع الله تعالى عنه عذاب القبر Pada malam yang ke-25, Allah akan menghilangkan siksa kubur dari orang yang tarawih. 26. Malam ke-26. وَفِى اللَّيْلَةِ السَّادِسَةِ وَاْلعِشْرِيْنَ يَرْفَعُ اللهُ لَهُ ثَوَابَهُ اَرْبَعِيْنَ عَامًا. Pada malam yang ke 26, Allah meningkatkan baginya pahala selama empat puluh tahun 27. Malam ke-27 وَفِى اللَّيْلَةِ السَّابِعَةِ وَاْلعِشْرِيْنَ جَازَ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ عَلَى الصِّرَاطِ كَاْلبَرْقِ اْلخَاظِفِ. Pada malam yang ke-27, di hari qiyamat dia melewati jembatan (syirathal mustaqiim) dengan mudah lagi cepat laksana halilintar menyambar. 28. Malam ke-28 . وَفِى اللَّيْلَةِ الثَّامِنَةِ وَاْلعِشْرِيْنَ يَرْفَعُ اللهُ لَهُ اَلْفَ دَرَجَةٍ فِى اْلجَنَّةِ. Pada malam yang ke 28, Allah mengangkat seribu derajat baginya didalam surga. 29. Malam ke-29 . وَفِى اللَّيْلَةِ التَّاسِعَةِ وَاْلعِشْرِيْنَ أَعْطَاهُ اللهُ ثَوَابَ اَلْفِ حِجَّةٍ مَقْبُوْلَةٍ. Pada malam yang ke 29, Allah memberikan kepadanya pahala seribu ibadah haji yang diterima. 30. Malam ke-30 وَفِى اللَّيْلَةِ الثَّلاَثِيْنَ يَقُوْلُ اللهُ " يَاعَبْدِى كُلْ مِنْ ثِمَارِ اْلجَنَّةِ وَاغْتَسِلْ مِنْ مَاءِ السَّلْسَبِيْلِ وَاشْرَبْ مِنَ اْلكَوْثَرِ مِنَ اْلكَوْثَرِ اَنَارَبُّكَ وَاَنْتَ عَبْدِى. Pada malam yang ke-30, Allah berfirman : ” makanlah buah-buahan surga, mandilah dengan air salsabil dan minumlah dari telaga kautsar, aku adalah Tuhanmu dan Engkau adalah hambaku

الاثنين، 28 مارس 2022

Tentang Puasa

Tentang Puasa



Tentang Puasa

Syekh agung Muhammad Nawawi Tanara Banten  Bapak Kitab Kuning Indonesia kebanggaan Mang Heru dalam Kitabnya Nihayatuz Zain

ﻭَﻟِﻠﺼَّﻮْﻡِ ﺷُﺮُﻭْﻁٌ ﻟِﻮُﺟُﻮْﺑِﻪِ ﻭَﺷُﺮُﻭْﻁٌ ﻟِﺼِﺤَّﺘِﻪِ ﻭَﺃَﺭْﻛَﺎﻥٌ ﻭَﺳُﻨَﻦٌ ﻭَﻣَﻜْﺮُﻭْﻫَﺎﺕٌ ﻭَمُبْطِلَاﺕٌ

Bagi puasa ada beberapa syarat bagi hukum wajibnya dan beberapa syarat bagi ke absahannya, ada rukun-rukun, sunnah-sunnah, perkara-perkara yang dimakruhkan dan perkara-perkara yang membatalkan.

ﺃَﻣَّﺎ ﺷُﺮُﻭْﻁُ ﻭُﺟُﻮْﺑِﻪِ فَثَلَاثَةٌ الْإِسْلَاﻡُ ﻭَاﻟﺘَّﻜْﻠِﻴْﻒُ ﻭَاﻟْﻘُﺪْﺭَﺓُ ﻋَﻠَﻰ اﻟﺼَّﻮْﻡِ 

Adapun syarat-syarat hukum wajib berpuasa ada 3 :
1. Islam
2. Taklif (baligh dan berakal)
3. Mampu berpuasa

ﻛَﻤَﺎ َﺃﺷَﺎﺭَ ﺇِﻟَﻰ ﺫَﻟِﻚَ اﻟْﻤُﺼَﻨِّﻒُ ﺑِﻘَﻮْﻟِﻪِ (ﻳَﺠِﺐُ ﺻَﻮْﻡُ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﻣُﻜَﻠَّﻒٍ ﻣُﻄِﻴْﻖٍ ﻟَﻪُ)

Sebagaimana mushonnif telah memberi isyarat kepada yang demikian dengan perkataannya : "Wajib berpuasa bulan Ramadhan bagi mukallaf yang mampu berpuasa".

(ﻭَﻓَﺮْﺿُﻪُ) ﺃَﻱْ ﺃَﺭْﻛَﺎﻥُ اﻟﺼَّﻮْﻡِ اِﺛْﻨَﺎﻥِ الْأَوَّﻝُ (ﻧِﻴَّﺔٌ) لَيْلًا (ﻟِﻜُﻞِّ ﻳَﻮْﻡٍ) 

Dan fardhu puasa, maksudnya rukun-rukun puasa ada 2, yang pertama niat di malam hari setiap hari.

ﻭَﻣَﺤَﻠُّﻬَﺎ اﻟْﻘَﻠْﺐُ ﻭَﻳُﺴْﺘَﺤَﺐُّ اﻟﺘَّﻠَﻔُّﻆُ ﺑِﻬَﺎ

Letak niat adalah di hati, dan disunnahkan mengucapkan niat.

 ﻭَﻟَﻮْ ﻧَﺴِﻲَ اﻟﻨِّﻴَّﺔَ لَيْلًا ﻭَﻃَﻠَﻊَ اﻟْﻔَﺠْﺮُ ﻭَﻫُﻮَ ﻧَﺎﺱٍ ﻟَﻢْ ﻳُﺤْﺴَﺐْ ﻟَﻪُ ﺫَﻟِﻚَ اﻟْﻴَﻮْﻡِ ﻟَﻜِﻦْ ﻳَﺠِﺐُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ الْإِﻣْﺴَﺎﻙُ ﺭِﻋَﺎﻳَﺔً ﻟِﺤُﺮْﻣَﺔِ اﻟْﻮَﻗْﺖِ

Seandainya dia melupakan niat pada malam hari dan telah terbit fajar, sedangkan dia adalah yang melupakan niat, maka tidak dihitung puasa pada hari itu, tetapi tetap wajib imsak karena memperhatikan untuk menghormat waktu.
(menghormati bulan Ramadhan).

 

ﻭَﻳُﺴَﻦُّ ﻓِﻲْ ﺃَﻭَّﻝِ اﻟﺸَّﻬْﺮِ ﺃَﻥْ ﻳَﻨْﻮِﻱَ ﺻَﻮْﻡَ ﺟَﻤِﻴْﻌِﻪِ ﻭَﺫَﻟِﻚَ ﻳُﻐْﻨِﻲ ﻋَﻦْ ﺗَﺠْﺪِﻳْﺪِﻫَﺎ ﻓِﻲْ ﻛُﻞِّ ﻟَﻴْﻠَﺔٍ ﻋِﻨْﺪَ الْإِﻣَﺎﻡِ ﻣَﺎﻟِﻚٍ ﻓَﻴُﺴَﻦُّ ﺫَﻟِﻚَ ﻋِﻨْﺪَﻧَﺎ لِأَﻧَّﻪُ ﺭُﺑَّﻤَﺎ ﻧَﺴِﻲَ اﻟﺘَّﺒْﻴِﻴْﺖَ ﻓِﻲ ﺑَﻌْﺾِ اﻟﻠَّﻴَﺎﻟِﻲ ﻓَﻴُﻘَﻠِّﺪُ الْإِﻣَﺎﻡَ ﻣَﺎﻟِﻜًﺎ

Dan disunnahkan pada awal bulan berniat puasa satu bulan penuh, dan yang demikian tidak perlu memperbaharui niat di setiap malam menurut Imam Malik, maka disunnahkan mengamalkan yang demikian menurut kami, karena terkadang seseorang lupa memalamkan niat pada sebagian malam-malam, maka dia (boleh) taqlid kepada Imam Malik. (Maksudnya agar puasanya sah ketika lupa berniat di malam hari).

ﻭَﻳُﺸْﺘَﺮَﻁُ ﺃَﻥْ ﻳَﺤْﻀُﺮَ ﻓِﻲْ اﻟﺬِّﻫْﻦِ ﺻِﻔَﺎﺕُ اﻟﺼَّﻮْﻡِ ﻣَﻊَ ﺫَاﺗِﻪِ ﺛُﻢَّ ﻳَﻀُﻢَّ اﻟْﻘَﺼْﺪَ ﺇِﻟَﻰ ﺫَﻟِﻚَ اﻟْﻤَﻌْﻠُﻮْﻡِ 

Dan disyaratkan terlintas di dalam hati sifat-sifat puasa, disertai dzatnya, kemudian menghimpun maksud kepada perkara yang diketahui yang demikian itu

ﻓَﻠَﻮْ ﺧَﻄَﺮَ ﺑِﺒَﺎﻟِﻪِ اﻟْﻜَﻠِﻤَﺎﺕُ ﻣَﻊَ ﺟَﻬْﻠِﻪِ ﻣَﻌْﻨَﺎﻫَﺎ ﻟَﻢْ ﻳَﺼِﺢَّ

Seandainya terlintas di hatinya kalimat-kalimat disertai ketidak tahuannya terhadap maknanya maka tidak sah puasa.
Penjelasan :
Contohnya seperti mengucapkan niat puasa dengan bahasa arab, tapi tidak tahu maknanya, maka tidak sah puasanya.

ﻭَﻣِﻦْ ﺻِﻔَﺎﺕِ اﻟﺼَّﻮْﻡِ ﻛَﻮْﻥُ اﻟﺸَّﻬْﺮِ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﻭَﺇِﻥْ ﻟَﻢْ ﻳَﺤْﻀُﺮْ ﻓِﻲ اﻟﺬِّﻫْﻦِ َﺫَﻟِﻚَ ﻟَﻢْ ﻳَﺤْﺼُﻞْ ﻟَﻪُ اﻟْﻴَﻮْﻡَ الْأَﻭَّﻝَ ﻭَلَا ﻏَﻴْﺮَﻩُ

Dan sebagian dari sifat-sifat puasa adalah keberadaan bulan Ramadhan, dan jika tidak terlintas di dalam hati yang demikian itu, maka tidak tercapai keabsahan puasa baginya pada  hari pertama dan hari selainnya.
Penjelasan :
Misalkan dia berniat puasa tapi tidak tahu sedang berada di bulan apa. Atau dia berniat puasa tapi yang diingat selain bulan Ramadhan. Maka tidak sah puasanya.

(ﻭَﺷُﺮِﻁَ ﻟِﻔَﺮْﺿِﻪِ) ﺃَﻱِ اﻟﺼَّﻮْﻡِ ﻣِﻦْ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﻭَﻟَﻮْ ﻣِﻦْ ﺻَﺒِﻲٍّ ﺃَﻭْ ﻏَﻴْﺮِﻩِ ﻛَﻘَﻀَﺎءٍ ﺃَﻭْ ﻛَﻔَﺎﺭَﺓٍ ﺃَﻭِ اﺳْﺘِﺴْﻘَﺎءِ ﺃَﻣْﺮٍ ﺑِﻪِ الْإِﻣَﺎﻡِ ﺃَﻭْ ﻧَﺬْﺭٍ 

Dan disyaratkan bagi kefardhuannya, maksudnya puasa di bulan Ramadhan sekalipun dari anak kecil atau selainnya, seperti puasa qodho, puasa kifarat atau ada perintah dari imam mengerjakan puasa atau puasa nadzar.

(ﺗَﺒْﻴِﻴْﺖٌ) ﻟِﻠﻨِّﻴَّﺔِ ﻟِﻜُﻞِّ ﻟَﻴْﻠَﺔٍ ﻭَﻟَﻮْ ﻣِﻦْ ﺃَﻭَّﻝِ اﻟﻠَّﻴْﻞِ 

Yaitu : memalamkan niat di setiap malam, sekalipun dari awal malam.
Penjelasan :
Yang dimaksud awal malam adalah waktu maghrib. Sehingga boleh setelah berbuka langsung berniat kembali berpuasa esok hari, supaya tidak lupa.

ﻭَلَا ﻳَﺠِﺐُ اﻟﺘَّﺒْﻴِﻴْﺖُ ﻓِﻲْ ﻧَﻔْﻞِ اﻟﺼَّﻮْﻡِ ﺑَﻞْ ﺗَﺼِﺢُّ ﻧِﻴَّﺘُﻪُ ﻗَﺒْﻞَ اﻟﺰَّﻭَاﻝِ ﺑِﺸَﺮْﻁٍ ﺃَﻥْ لَا ﻳَﺴْﺒُﻘَﻬَﺎ ﻣَﻨَﺎﻑٍ لِلصَّوْﻡِ

dan tidak wajib memalamkan niat di dalam puasa sunnah, bahkan sah niatnya sebelum tergelincir matahari dengan syarat belum melakukan perkara-peraka yang menafikan puasa.
Penjelasan :
Bagi puasa sunnah sah berniat puasa sebelum tergelincir matahari dengan syarat belum melakukan perkara-perkara yang menafikan puasa dari waktu terbit fajar, sepeti : makan, minum, jima', istimna dan semisalnya dari perkara-perkara yang dapat membatalkan puasa.

(ﻭَﺗَﻌْﻴِﻴْﻦُ) ﻓِﻲ اﻟْﻔَﺮْﺽِ اﻟْﻤَﻨْﻮِﻱ ﻛَﺮَﻣَﻀَﺎﻥَ ﺃَﻭْ ﻧَﺬْﺭٍ ﺃَﻭ ﻗَﻀَﺎءٍ ﺃَﻭْ ﻛَﻔَﺎﺭَﺓٍ ﻭَﻓِﻲْ ﻧَﻔْﻞٍ ﻟَﻪُ ﺳَﺒَﺐٌ

dan (syarat niat puasa yang ke tiga) adalah ta'yin di dalam puasa wajib yang diniatkan seperti puasa bulan Ramadhan atau puasa nadzar atau puasa qadha atau puasa kifarat dan di dalam puasa sunnah yang memiliki sebab.

بِخِلَاﻑِ اﻟﻨَّﻔْﻞِ اﻟْﻤُﺆَﻗَّﺖِ ﻛَﺼَﻮْﻡِ الْإِﺛْﻨَﻴْﻦِ ﻭَﻋَﺮَﻓَﺔَ ﻭَﻋَﺎﺷُﻮْﺭَاءَ ﻭَﺃَﻳَّﺎﻡِ اﻟْﺒِﻴْﺾِ ﻭَﺳِﺘَّﺔٍ ﻣِﻦْ ﺷَﻮَاﻝٍ فَلَا ﻳُﺸْﺘَﺮَﻁُ ﻓِﻴْﻪِ اﻟﺘَّﻌْﻴِﻴْﻦُ لِأَﻥَّ اﻟﺼَّﻮْﻡَ ﻓِﻲْ ﺗِﻠْﻚَ الْأَﻳَّﺎﻡِ ﻣُﻨْﺼَﺮِﻑٌ ﺇِﻟَﻴْﻬَﺎ ﺑَﻞْ ﻟَﻮْ ﻧَﻮَﻯ ﺑِﻪِ ﻏَﻴْﺮَﻫَﺎ ﺣَﺼَﻠَﺖْ ﺃَﻳْﻀًﺎ ﻛَﺘَﺤْﻴَﺔِ اﻟْﻤَﺴْﺠِﺪِ لِأَﻥَّ اﻟْﻤَﻘْﺼُﻮْﺩَ ﻭُﺟُﻮْﺩُ ﺻَﻮْﻡٍ ﻓِﻴْﻬَﺎ

Lain halnya puasa sunnah yang ditentukan waktunya, seperti puasa hari senin, puasa 'Arafah, puasa 'Asyuro, puasa ayyamul bidh dan puasa 6 hari dari bulan Syawal. Maka tidak disyaratkan di dalamnya ta'yin, karena puasa pada hari-hari itu sudah otomatis tercakup kepadanya, bahkan seandainya dia berniat pada hari itu dengan puasa selainnya, maka tercapai juga (pahala) puasa sunnah (pada hari-hari itu), seperti shalat sunnah tahyatul masjid. Karena yang dikehendaki adalah adanya puasa di dalamnya.

ﻭَﻳُﺴْﺘَﺜْﻨَﻰ ﻣِﻦْ ﻭُﺟُﻮْﺏِ اﻟﺘَّﻌْﻴِﻴْﻦِ ﻣَﺎ ﻟَﻮْ ﻛَﺎﻥَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻗَﻀَﺎءُ ﺭَﻣَﻀَﺎﻧَﻴْﻦِ ﺃَﻭْ ﺻَﻮْﻡُ ﻧَﺬْﺭٍ ﺃَﻭْ ﻛَﻔَﺎﺭَﺓٍ ﻣِﻦْ ﺟِﻬَﺎﺕِ ﻣُﺨْﺘَﻠِﻔَﺔٍ 

Dan dikecualikan dari kewajiban ta'yin, yaitu suatu perkara yang seandainya pada perkara itu ada kewajiban mengqadha puasa dua Ramadhan atau puasa nadzar atau puasa kifarat dari beberapa jenis puasa yang berbeda-beda.

ﻓَﻨَﻮَﻯ ﺻَﻮْﻡَ ﻏَﺪٍ ﻋَﻦْ ﻗَﻀَﺎءِ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﺃَﻭْ ﺻَﻮْﻡَ ﻧَﺬْﺭٍ ﺃَﻭْ ﻛَﻔَﺎﺭَﺓٍ ﺟَﺎﺯَ ﻭَﺇِﻥْ ﻟَﻢْ ﻳُﻌَﻴِّﻦْ ﻋَﻦْ ﻗَﻀَﺎءِ ﺃَﻳِّﻬُﻤَﺎ ﻓِﻲْ ﻗَﻀَﺎءِ ﺭَﻣَﻀَﺎﻧَﻴْﻦِ ﻭَلَا ﻧَﻮْﻋَﻪُ ﻓِﻲْ اﻟْﺒَﺎﻗِﻲ لِأَﻧَّﻪُ ﻛُﻠُّﻪُ ﺟِﻨْﺲٌ ﻭَاﺣِﺪٌ

Lalu dia berniat puasa esok hari untuk mengqadha puasa bulan Ramadhan atau puasa nadzar atau puasa kifarat, maka yang demikian itu boleh sekalipun tidak menentukan dari puasa qadha bulan Ramadhan tahun yang mana di dalam mengqadha puasa dua Ramadhan dan tidak menentukan jenisnya di dalam puasa yang lain, karena yang demikian itu seluruhnya dianggap jenis yang satu (menurut syariat).

 

ﻭَﻟَﻮْ ﻧَﻮَﻯ ﺻَﻮْﻡَ ﻏَﺪٍ ﻭَﻫُﻮَ ﻳَﻌْﺘَﻘِﺪُﻩُ الْإِﺛْﻨَﻴْﻦِ ﻓَﻜَﺎﻥَ الثَلَاﺛَﺎءَ ﺃَﻭْ ﺻَﻮْﻡَ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﻫَﺬِﻩِ اﻟﺴَّﻨَﺔِ ﻭَﻫُﻮَ ﻳَﻌْﺘَﻘِﺪُﻫَﺎ ﺳَﻨَّﺔَ ثَلَاﺙٍ ﻓَﻜَﺎﻧَﺖْ ﺳَﻨَّﺔَ ﺃَﺭْﺑَﻊٍ ﺻَﺢَّ ﺻَﻮْﻣُﻪُ ﻭَلَا ﻋِﺒْﺮَﺓَ ﺑِﺎﻟﻈَّﻦِّ اﻟْﺒَﻴْﻦِ ﺧَﻄَﺆُﻩُ

Seandainya dia berniat puasa esok hari, dan dia meyakininya hari senin, padahal sebenarnya hari selasa, atau dia berniat puasa bulan Ramadhan tahun ini, dan dia meyakininya tahun 3 H, padahal sebenarnya tahun 4 H, maka sah puasanya, dan perkiraan tidak dianggap apabila sudah jelas kesalahannya.

 بِخِلَاﻑِ ﻣَﺎ ﻟَﻮْ ﻧَﻮَﻯْ ﺻَﻮْﻡَ الثَّلَاثَاءِ ﻟَﻴْﻠَﺔَ الْإِﺛْﻨَﻴْﻦِ ﻭَﻟَﻢْ ﻳَﺨْﻄُﺮْ ﺑِﺒَﺎﻟِﻪِ ﺻَﻮْﻡُ ﻏَﺪٍ ﺃَﻭْ ﺻَﻮْﻡُ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥِ ﺳَﻨَّﺔِ ثَلَاﺙٍ ﻭَﻛَﺎﻧَﺖً ﺳَﻨَّﺔَ ﺃَﺭْﺑَﻊٍ ﻭَﻟَﻢْ ﻳَﺨْﻄُﺮْ ﺑِﺒَﺎﻟِﻪِ اﻟﺴَّﻨَّﺔُ اﻟْﺤَﺎﺿِﺮَﺓُ ﻓَﺈِﻧَّﻪُ لَا ﻳَﺼِﺢُّ لِأَﻧَّﻪُ ﻟَﻢْ ﻳُﻌَﻴِّﻦِ اﻟْﻮَﻗْﺖَ اﻟَّﺬِﻱْ ﻧَﻮَﻯ ﻓِﻲْ ََﻟَﻴْﻠَﺘِﻪِ 

Lain halnya seandainya dia berpuasa pada hari selasa malam senin, dan tidak terlintas di hatinya puasa esok hari atau dia berpuasa bulan Ramadhan tahun 3 H, padahal sebenarnya tahun 4 H, dan tidak terlintas di hatinya tahun yang hadir, maka yang demikian tidak sah puasanya, karena tidak ta'yin waktu yang mana dia berniat di malam harinya.

ﻭَﻟَﻮْ ﻧَﻮَﻯ ﺻَﻮْﻡَ ﻏَﺪٍ ﻳَﻮْﻡَ الْأَﺣَﺪِ مَثَلًا ﻭَﻫُﻮَ ﻏَﻴْﺮُﻩُ ﻓَﺎلْأَﻭْﺟَﻪُ اﻟﺼِّﺤَﺔُ ﻣِﻦَ اﻟْﻐَﺎﻟِﻂِ لَا اﻟْﻌَﺎﻣِﺪِ لِتَلَاﻋُﺒِﻪِ

Dan seandainya dia berniat puasa esok hari pada hari minggu misalkan, dan hari itu sebenarnya selain hari minggu, maka menurut pendapat yang paling kuat adalah sah dari orang yang keliru (tidak sengaja), tidak sah bagi yang sengaja karena ketidak seriusannya (main-main).
 :

ﻭَﺧَﺮَﺝَ ﺑِﺎﻟﺘَّﻌْﻴِﻴْﻦِ ﻣَﺎ ﻟَﻮْ ﻧَﻮَﻯ اﻟﺼَّﻮْﻡَ ﻋَﻦْ ﻓَﺮْﺿِﻪِ ﺃَﻭْ ﻋَﻦْ ﻓَﺮْﺽِ ﻭَﻗْﺘِﻪِ

Dan telah keluar dari definisi ta'yin, yaitu seandainya dia berniat "..(saya berniat puasa) untuk menunaikan kefardhuannya", atau "..kefardhuan waktunya."

فَلَا ﻳَﻜْﻔِﻲ لِأَﻧَّﻪُ ﻓِﻲ الْأُﻭْﻟَﻰ ﻳَﺤْﺘَﻤِﻞُ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥُ ﻭَﻏَﻴْﺮُﻩُ ﻭَﻓِﻲ اﻟﺜَّﺎﻧِﻴَّﺔِ ﻳَﺤْﺘَﻤِﻞُ اﻟْﻘَﻀَﺎءُ ﻭَالْأَﺩَاءُ

Maka yang demikian tidak cukup karena di dalam niat yang pertama tidak jelas antara bulan Ramadhan dan selain bulan Ramadhan, sedangkan di dalam niat yang kedua tidak jelas antara puasa Qadha dan puasa tunai.

ﻭَﺃَﻗَﻞُّ اﻟﺘَّﻌْﻴِﻴْﻦِ ﻫُﻨَﺎ ﺃَﻥْ ﻳَﻨْﻮِﻱَ ﺻَﻮْﻡَ ﻏَﺪٍ ﻋَﻦْ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ 

Paling sedikit ta'yin disana adalah dia berniat puasa esok hari dari bulan Ramadhan.

ﻭَلَا ﻳُﺸْﺘَﺮَﻁُ اﻟﺘَّﻌَﺮُّﺽُ ﻟِﻠْﻐَﺪِ ﺑِﺨُﺼُﻮْﺻِﻪِ ﻟِﺤُﺼُﻮْﻝِ اﻟﺘَّﻌْﻴِﻴْﻦِ ﺩُﻭْﻧَﻪُ ﻛَﺄَﻥْ ﻳَﻘُﻮْﻝَ اﻟْﺨَﻤِﻴْﺲَ مَثَلًا ﻋَﻦْ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﺃَﻭْ ﻳَﻘُﻮْﻝُ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﺑِﺪُﻭْﻥِ ﺫِﻛْﺮِ ﻳَﻮْﻡٍ

Dan tidak disyaratkan terlintas "esok hari" dengan kekhususannya agar tercapai ta'yin tanpanya, seperti berkata hari kamis misalkan dari bulan Ramadhan, atau berkata bulan Ramadhan tanpa menuturkan hari.

 ﻭَﺇِﻧَّﻤَﺎ ﻫُﻮَ ﻣِﺜَﺎﻝٌ ﻟِﻠﺘَّﺒْﻴِﻴْﺖِ ﺑَﻞْ ﻳَﻜْﻔِﻲْ ﻧِﻴَّﺔُ ﺩُﺧُﻮْﻟِﻪِ ﻓِﻲْ ﺻَﻮْﻡِ اﻟﺸَّﻬْﺮِ

Dan pastinya yang demikian adalah contoh contoh untuk tabyit, bahkan mencukupi niat masuknya di dalam bulan puasa.

(ﻭَﺃَﻛْﻤَﻠُﻬَﺎ) ﺃَﻱ اﻟﻨِّﻴَّﺔُ ﻭَﻋِﺒَﺎﺭَﺓُ اﻟْﻤِﻨْﻬَﺎﺝِ ﻛَﺎﻟْﻤُﺤَﺮِّﺭِ ﻛَﻤَﺎﻝُ اﻟﺘَّﻌْﻴِﻴْﻦِ 

Dan paling sempurnanya, maksudnya niat, sedangkan ibaroh kitab Al Minhaj sama seperti kitab Al Muharrir, yaitu sempurna ta'yin :

(ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺻَﻮْﻡَ ﻏَﺪٍ ﻋَﻦْ ﺃَﺩَاءِ ﻓَﺮْﺽِ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥِ ﻫَﺬِﻩِ اﻟﺴَّﻨَﺔِ ﻟِﻠﻪ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ) ﺇِﻳْﻤَﺎﻧًﺎ ﻭَاﺣْﺘِﺴَﺎﺑًﺎ 

Aku berniat puasa esok hari menunaikan fardhu Ramadhan tahun ini karena Allah ta'ala, karena keimanan dan mengharap pahala di sisi Allah.

ﺑِﺈِﺿَﺎﻓَﺔِ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﺇِﻟَﻰ ﻣَﺎ ﺑَﻌْﺪَﻫَﺎ ﻟِﺘَﺘَﻤَﻴَّﺰَ ﻋَﻦْ ﺃَﺿْﺪَاﺩِﻫَﺎ 

Dengan mengidhofatkan lafadz Ramadhan (menjadi Ramadhoni) kepada lafadz sesudahnya agar terbedakan dari bulan Ramadhan tahun lainnya.

ﻭَﻳُﻐْﻨِﻲْ ﻋَﻦْ ﺫِﻛْﺮِ الْأَﺩَاءِ ﺃَﻥْ ﻳَﻘُﻮْﻝَ ﻋَﻦْ ﻫَﺬَا اﻟﺮَّﻣَﻀَﺎﻥِ 

Dan mencukupi (untuk mengganti) penuturan menunaikan, yaitu dia berkata Ramadhan ini.

ﻭَاﺣْﺘَﻴَﺞَ ﻟِﺬِﻛْﺮِﻩِ ﻣَﻊَ ﻫَﺬِﻩِ اﻟﺴَّﻨَﺔِ ﻭَﺇِﻥِ اﺗَّﺤَﺪَ ﻣُﺤْﺘَﺮِﺯُﻫَﻤَﺎ ﺇِﺫْ ﻓَﺮْﺽُ ﻏَﻴْﺮِ ﻫَﺬِﻩِ اﻟﺴَّﻨَﺔِ لَا ﻳَﻜُﻮْﻥُ ﺇِلَّا ﻗَﻀَﺎءٌ لِأَﻥَّ ﻟَﻔْﻆَ الْأَﺩَاءِ ﻳُﻄْﻠَﻖُ ﻭَﻳُﺮَاﺩُ ﺑِﻪِ اﻟْﻔِﻌْﻞُ ﻛَﺬَا ﻗَﺎﻟَﻪُ اﻟﺮَّﻣْﻠِﻲُّ

Dan yang demikian menjadi butuh bagi penuturannya disertai lafadz tahun ini (ِهَذِهِ السَّنَّة) sekalipun yang menjaga keduanya sudah menjadi satu, karena fardhu tahun ini tidak ada kecuali Qadha, karena lafadz Al Ada dimutlakkan, dan dikehendaki dengannya perbuatan, sama seperti yang telah dikatakan Ar Romli.

الأحد، 24 أكتوبر 2021

Makna Huruf Hijaiyah

Makna Huruf Hijaiyah

Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh.
Pada kesempatan ini penulis akan menyampaikan  makna makna dari huruf Hijaiyah.

Dari Husein bin Ali bin Abi Thalib Karromallohu wajhah:
Seorang Yahudi mendatangi Nabi Muhammad SAW. Pada saat itu Amirul
Mukminin Ali bin Abi Thalib Karromallohu wajhah bersama Nabi.

Yahudi itu berkata kepada Nabi Muhammad SAW : “apa faedah dari huruf
hijaiyah ?”
Rasulullah SAW lalu berkata kepada Ali bin Abi Thalib Karromallohu wajhah, “Jawablah”.
Lalu Rasulullah SAW mendoakan Ali, “Ya Allah, sukseskan Ali dan bungkam
orang Yahudi itu”.
Lalu Ali berkata : “Tidak ada satu huruf-pun kecuali semua bersumber
pada nama-nama Allah swt”.
Kemudian Ali berkata :
 1. “Adapun ا artinya الله الذي لااله إلا هو الحي القيوم tidak ada Tuhan selain Dia yang Maha Hidup
    dan Kokoh,
 2. Adapun ب artinya باق بعد فناء خلق tetap ada setelah musnah seluruh makhluk-Nya.
 3. Adapun ت, artinya تواب ثقيل توبة عن عباد yang maha menerima taubat, menerima taubat dari
    semua hamba-Nya,
 4. adapun ث artinya الثابت الكائن يثبت الله الذين امنوابالقول الثابت adalah yang mengokohkan semua makhluk “Dialah
    yang mengokohkan orang-orang beriman dengan perkataan yang kokoh
    dalam kehidupan dunia”
 5. Adapun ج maksudnya  جل ثنأه وتقدست اسماءه adalah keluhuran sebutan dan pujian-Nya
    serta suci seluruh nama-nama-Nya.
 6. Adapun ح adalah حق حي حليم  Maha hidup dan penyayang.
 7. خ maksudnya adalah خبير بما يعمل العباد  maha mengetahui akan seluruh perbuatan
    hamba-hamba-Nya.
 8. د artinya ديان يوم الدين pemberi balasan pada hari kiamat,
 9. ذ artinya ذو الجلال والاكرام pemilik segala keagungan dan kemuliaan.
10. ر artinya  رؤوف بعبادهlemah lembut terhadap hamba-hamba-Nya.
11. ز artinya  زين المعبودينhiasan penghambaan.
12. س artinya  سميع البصيرMaha mendengar dan melihat.
13. ش artinya  شاكر لعباده المؤمنينyang disyukuri oleh hamba-Nya.
14. ص maksudnya  صادق في وعده ووعيده adalah Maha benar dalam setiap janji-Nya.
15. ض artinya الضار النافعadalahyang memberikan madharat dan manfaat.
16. ط artinya  Yang suci dan mensucikan,
17. ظ artinya Yang maha nampak dan menampakan seluruh tanda-tanda.
18. ع artinya عالم بعباده Maha mengetahui hamba-hamba-Nya.
19. غ artinya غياث المثتغيثين tempat mengharap para pengharap dari semua
    ciptaan-Nya.
20. ف artinya فالق الحب والنوىyang menumbuhkan biji-bijian dan tumbuhan.
21. ق artinya  قادر على جميع خلقهadalah Maha kuasa atas segala makhluk-Nya
22. ك artinya الكافي الذي لم يكن له كفوا احد ولم يلد ولم يولد  yang Maha mencukupkan yang tidak ada satupun yang
    setara dengan-Nya, Dia tidak beranak dan tidak diperanakan.
23. Adapun ل maksudnya لطيف بعباده  adalah maha lembut terhadap hamba-nya.
24. م artinya مالك الملك pemilik semua kerajaan.
25. ن maksudnya  نور السموات والأرض من نور عرشه adalah cahaya bagi langit yang bersumber pada
    cahaya arasynya.
26. Adapun و artinya واحد صمد لم يلد ولم يولد ولم يكن له كفوا احد  adalah, satu, esa, tempat bergantung semua
    makhluk dan tidak beranak serta diperanakan.
27. ه‍ artinya  هادي لخلقه Memberi petunjuk bagi makhluk-Nya.
28. لا artinya لا اله إلا الله وحده لا شريك له tidak ada tuhan selain Allah, satu-satunya serta
    tidak ada sekutu bagi-Nya.
29. Adapun ي artinya  يد الله بسطة على خلقه tangan Allah yang terbuka bagi seluruh
    makhluk-Nya”.
فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم هذا هو القو ل  الذي رضي الله عز وجل لنفسه وجميع خلقه فاسلم اليهودي
Sekian dan demikian semoga Bermanfaat. Amiin 

السبت، 23 أكتوبر 2021

Tahlilan di 3 7 40 100 1000 Hari Bukan Tradisi Hindu

Tahlilan di 3 7 40 100 1000 Hari Bukan Tradisi Hindu

Tahlilan, Yasinan, Pembacaan Kalimah Toyyibah dihari 3,7,25,40,100,1000 Harinya Orang yang Sudah meninggal.
Rasulullah Muhammad Saw bersabda :

ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﻭﺍﻟﺼﺪﻗﺔ ﻫﺪﻳﺔ ﺇﻟﻰﺍﻟﻤﻮتى

ﻭﻗﺎﻝ ﻋﻤﺮ : ﺍﻟﺼﺪﻗﺔ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﺪﻓن ﺛﻮﺍﺑﻬﺎ ﺇﻟﻰ ﺛﻼﺛﺔ ﺃﻳﺎﻡ ﻭﺍﻟﺼﺪﻗﺔ ﻓﻰ ﺛﻼﺛﺔ ﺃﻳﺎﻡ ﻳﺒﻘﻰ ﺛﻮﺍﺑﻬﺎ ﺇﻟﻰ ﺳﺒﻌﺔ ﺃﻳﺎﻡ ﻭﺍﻟﺼﺪﻗﺔ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﺴﺎﺑﻊ ﻳﺒﻘﻰ ﺛﻮﺍﺑﻬﺎ ﺇﻟﻰ ﺧﻤﺲ ﻭﻋﺸﺮﻳﻦ ﻳﻮﻣﺎ ﻭﻣﻦ ﺍﻟﺨﻤﺲ ﻭﻋﺸﺮﻳﻦ ﺇﻟﻰ ﺃﺭﺑﻌﻴﻦ ﻳﻮﻣﺎ ﻭﻣﻦ ﺍﻷﺭﺑﻌﻴﻦ ﺇﻟﻰ ﻣﺎﺋﺔ ﻭﻣﻦ ﺍﻟﻤﺎﺋﺔ ﺇﻟﻰ ﺳﻨﺔ ﻭﻣﻦ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﺇﻟﻰ ﺃﻟﻒ عام (الحاوي للفتاوي ,ج:۲,ص: ١٩٨

Rasulullah saw bersabda: “Doa dan shodaqoh itu hadiah kepada mayyit.”
Berkata Umar: “shodaqoh setelah kematian maka pahalanya sampai tiga hari dan shodaqoh dalam tiga hari akan tetap kekal pahalanya sampai tujuh hari, dan shodaqoh di hari ke tujuh akan kekal pahalanya sampai 25 hari dan dari pahala 25 sampai 40 harinya lalu sedekah dihari ke 40 akan kekal hingga 100 hari dan dari 100 hari akan sampai kepada satu tahun dan dari satu tahun sampailah kekalnya pahala itu hingga 1000 hari.”

Referensi : (Al-Hawi lil Fatawi Juz 2 Hal 198)

Jumlah-jumlah harinya (3, 7, 25, 40, 100, setahun & 1000 hari) jadi jelas bukan dari orang hindu

Berkumpul ngirim doa adalah bentuk shodaqoh buat mayyit.

ﻓﻠﻤﺎ ﺍﺣﺘﻀﺮﻋﻤﺮ ﺃﻣﺮ ﺻﻬﻴﺒﺎ ﺃﻥ ﻳﺼﻠﻲ ﺑﺎﻟﻨﺎﺱ ﺛﻼﺛﺔ ﺃﻳﺎﻡ ، ﻭﺃﻣﺮ ﺃﻥ ﻳﺠﻌﻞ ﻟﻠﻨﺎﺱ ﻃﻌﺎما، ﻓﻴﻄﻌﻤﻮﺍ ﺣﺘﻰ ﻳﺴﺘﺨﻠﻔﻮﺍ ﺇﻧﺴﺎﻧﺎ ، ﻓﻠﻤﺎ ﺭﺟﻌﻮﺍ ﻣﻦ ﺍﻟﺠﻨﺎﺯﺓ ﺟﺊ ﺑﺎﻟﻄﻌﺎﻡ ﻭﻭﺿﻌﺖ ﺍﻟﻤﻮﺍﺋﺪ ! ﻓﺄﻣﺴﻚ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻋﻨﻬﺎ ﻟﻠﺤﺰﻥ ﺍﻟﺬﻱ ﻫﻢ ﻓﻴﻪ ، ﻓﻘﺎﻝ ﺍﻟﻌﺒﺎﺱ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻤﻄﻠﺐ : ﺃﻳﻬﺎ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺇﻥ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺪ ﻣﺎﺕ ﻓﺄﻛﻠﻨﺎ ﺑﻌﺪﻩ ﻭﺷﺮﺑﻨﺎ ﻭﻣﺎﺕ ﺃﺑﻮ ﺑﻜﺮ ﻓﺄﻛﻠﻨﺎ ﺑﻌﺪﻩ ﻭﺷﺮﺑﻨﺎ ﻭﺇﻧﻪ ﻻﺑﺪ ﻣﻦ ﺍﻻﺟﻞ ﻓﻜﻠﻮﺍ ﻣﻦ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻄﻌﺎﻡ ، ﺛﻢ ﻣﺪ ﺍﻟﻌﺒﺎﺱ ﻳﺪﻩ ﻓﺄﻛﻞ ﻭﻣﺪ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺃﻳﺪﻳﻬﻢ ﻓﺄﻛﻠﻮﺍ

Ketika Umar sebelum wafatnya, ia memerintahkan pada Shuhaib untuk memimpin shalat, dan memberi makan para tamu selama 3 hari hingga mereka memilih seseorang, maka ketika hidangan–hidangan ditaruhkan, orang – orang tak mau makan karena sedihnya, maka berkatalah Abbas bin Abdulmuttalib:

Wahai hadirin.. sungguh telah wafat Rasulullah saw dan kita makan dan minum setelahnya, lalu wafat Abubakar dan kita makan dan minum sesudahnya, dan ajal itu adalah hal yang pasti, maka makanlah makanan ini..!”, lalu beliau mengulurkan tangannya dan makan, maka orang–orang pun mengulurkan tangannya masing–masing dan makan.

Referensi: [Al Fawaidussyahiir Li Abi Bakar Assyafii juz 1 hal 288, Kanzul ummaal fii sunanil aqwaal wal af’al Juz 13 hal 309, Thabaqat Al Kubra Li Ibn Sa’d Juz 4 hal 29, Tarikh Dimasyq juz 26 hal 373, Al Makrifah wattaarikh Juz 1 hal 110]

Kemudian dalam kitab Imam As Suyuthi, Al-Hawi li al-Fatawi:

ﻗﺎﻝ ﻃﺎﻭﻭﺱ : ﺍﻥ ﺍﻟﻤﻮﺗﻰ ﻳﻔﺘﻨﻮﻥ ﻓﻲ ﻗﺒﻮﺭﻫﻢ ﺳﺒﻌﺎ ﻓﻜﺎﻧﻮﺍ ﻳﺴﺘﺤﺒﻮﻥ ﺍﻥ ﻳﻄﻌﻤﻮﺍ ﻋﻨﻬﻢ ﺗﻠﻚ ﺍﻻﻳﺎﻡ

Imam Thawus berkata: “Sungguh orang-orang yang telah meninggal dunia difitnah dalam kuburan mereka selama tujuh hari, maka mereka (sahabat) gemar menghidangkan makanan sebagai ganti dari mereka yang telah meninggal dunia pada hari-hari tersebut.”

ﻋﻦ ﻋﺒﻴﺪ ﺑﻦ ﻋﻤﻴﺮ ﻗﺎﻝ : ﻳﻔﺘﻦ ﺭﺟﻼﻥ ﻣﺆﻣﻦ ﻭﻣﻨﺎﻓﻖ , ﻓﺎﻣﺎ ﺍﻟﻤﺆﻣﻦ ﻓﻴﻔﺘﻦ ﺳﺒﻌﺎ ﻭﺍﻣﺎﺍﻟﻤﻨﺎﻓﻖ ﻓﻴﻔﺘﻦ ﺍﺭﺑﻌﻴﻦ ﺻﺒﺎﺣﺎ

Dari Ubaid bin Umair ia berkata: “Dua orang yakni seorang mukmin dan seorang munafiq memperoleh fitnah kubur. Adapun seorang mukmin maka ia difitnah selama tujuh hari, sedangkan seorang munafiq disiksa selama empat puluh hari.”

Dalam tafsir Ibn Katsir (Abul Fida Ibn Katsir al Dimasyqi Al Syafi’i) 774 H beliau mengomentari ayat 39 surah an Najm (IV/236: Dar el Quthb), beliau mengatakan Imam Syafi’i berkata bahwa tidak sampai pahala itu, tapi di akhir akhir nya beliau berkomentar lagi

ﻓﺄﻣﺎ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﻭﺍﻟﺼﺪﻗﺔ ﻓﺬﺍﻙ ﻣﺠﻤﻊ ﻋﻠﻰ ﻭﺻﻮﻟﻬﻤﺎ ﻭﻣﻨﺼﻮﺹ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﺎﺭﻉ ﻋﻠﻴﻬﻤﺎ

bacaan alquran yang dihadiahkan kepada mayit itu sampai, Menurut Imam Syafi’i pada waktu beliau masih di Madinah dan di Baghdad, qaul beliau sama dengan Imam Malik dan Imam Hanafi, bahwa bacaan al-Quran tidak sampai ke mayit, Setelah beliau pindah ke mesir, beliau ralat perkataan itu dengan mengatakan bacaan alquran yang dihadiahkan ke mayit itu sampai dengan ditambah berdoa “Allahumma awshil.…dan seterusnya”, lalu murid beliau Imam Ahmad dan kumpulan murid murid Imam Syafi’i yang lain berfatwa bahwa bacaan alquran sampai.

Pandangan Hanabilah, Taqiyuddin Muhammad ibnu Ahmad ibnu Abdul Halim (yang lebih populer dengan julukan Ibnu Taimiyah dari madzhab Hambali) menjelaskan:

ﺍَﻣَّﺎ ﺍﻟﺼَّﺪَﻗَﺔُ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﻤَﻴِّﺖِ ﻓَـِﺎﻧَّﻪُ ﻳَﻨْـﺘَـﻔِﻊُ ﺑِﻬَﺎ ﺑِﺎﺗِّـﻔَﺎﻕِ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤِﻴْﻦَ. ﻭَﻗَﺪْ ﻭَﺭَﺩَﺕْ ﺑِﺬٰﻟِﻚَ ﻋَﻦِ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪ ُﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺍَﺣَﺎ ﺩِﻳْﺚُ ﺻَﺤِﻴْﺤَﺔٌ ﻣِﺜْﻞُ ﻗَﻮْﻝِ ﺳَﻌْﺪٍ ( ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮْﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ ﺍِﻥَّ ﺍُﻣِّﻲْ ﺍُﻓْﺘـُﻠِﺘـَﺖْ ﻧَﻔْﺴُﻬَﺎ ﻭَﺍَﺭَﺍﻫَﺎ ﻟَﻮْ ﺗَـﻜَﻠَّﻤَﺖْ ﺗَﺼَﺪَّﻗَﺖْ ﻓَﻬَﻞْ ﻳَﻨْـﻔَـﻌُﻬَﺎ ﺍَﻥْ ﺍَﺗَـﺼَﺪَّﻕَ ﻋَﻨْﻬَﺎ ؟ ﻓَﻘَﺎﻝَ: ﻧَـﻌَﻢْ , ﻭَﻛَﺬٰﻟِﻚَ ﻳَـﻨْـﻔَـﻌُﻪُ ﺍﻟْﺤَﺞُّ ﻋَﻨْﻪُ ﻭَﺍْﻻُ ﺿْﺤِﻴَﺔُ ﻋَﻨْﻪُ ﻭَﺍﻟْﻌِﺘْﻖُ ﻋَﻨْﻪُ ﻭَﺍﻟﺪُّﻋَﺎﺀُ ﻭَﺍْﻻِﺳْﺘِـْﻐﻒُﺭﺍَ ﻟَﻪُ ﺑِﻼَ ﻧِﺰﺍَﻉٍ ﺑَﻴْﻦَ ﺍْﻷَﺋِﻤَّﺔِ .

“Adapun sedekah untuk mayit, maka ia bisa mengambil manfaat berdasarkan kesepakatan umat Islam, semua itu terkandung dalam beberapa hadits shahih dari Nabi Saw. seperti perkataan sahabat Sa’ad “Ya Rasulallah sesungguhnya ibuku telah wafat, dan aku berpendapat jika ibuku masih hidup pasti ia bersedekah, apakah bermanfaat jika aku bersedekah sebagai gantinya?” maka Beliau menjawab “Ya”, begitu juga bermanfaat bagi mayit: haji, qurban, memerdekakan budak, do’a dan istighfar kepadanya, yang ini tanpa perselisihan di antara para imam”.

Referensi : (Majmu’ al-Fatawa: XXIV/314-315)

Ibnu Taimiyah juga menjelaskan perihal diperbolehkannya menyampaikan hadiah pahala shalat, puasa dan bacaan al-Qur’an kepada:

ﻓَﺎِﺫَﺍ ﺍُﻫْﺪِﻱَ ﻟِﻤَﻴِّﺖٍ ﺛَﻮَﺍﺏُ ﺻِﻴﺎَﻡٍ ﺍَﻭْ ﺻَﻼَﺓٍ ﺍَﻭْ ﻗِﺮَﺋَﺔٍ ﺟَﺎﺯَ ﺫَﻟِﻚَ

Artinya: “jika saja dihadiahkan kepada mayit pahala puasa, pahala shalat atau pahala bacaan (al-Qur’an / kalimah thayyibah) maka hukumnya diperbolehkan”.

Referensi : (Majmu’ al-Fatawa: XXIV/322)

Al-Imam Abu Zakariya Muhyiddin Ibn al-Syarof, dari madzhab Syafi’i yang terkenal dengan panggilan Imam Nawawi menegaskan;

ﻳُﺴْـﺘَـﺤَﺐُّ ﺍَﻥْ ﻳَـﻤْﻜُﺚَ ﻋَﻠﻰَ ﺍْﻟﻘَﺒْﺮِ ﺑَﻌْﺪَ ﺍﻟﺪُّﻓْﻦِ ﺳَﺎﻋَـﺔً ﻳَﺪْﻋُﻮْ ﻟِﻠْﻤَﻴِّﺖِ ﻭَﻳَﺴْﺘَﻐْﻔِﺮُﻝُﻩَ. ﻧَـﺺَّ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟﺸَّﺎﻓِﻌِﻰُّ ﻭَﺍﺗَّﻔَﻖَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍْﻻَﺻْﺤَﺎﺏُ ﻗَﺎﻟﻮُﺍ: ﻳُﺴْـﺘَـﺤَﺐُّ ﺍَﻥْ ﻳَـﻘْﺮَﺃَ ﻋِﻨْﺪَﻩُ ﺷَﻴْﺊٌ ﻣِﻦَ ﺍْﻟﻘُﺮْﺃَﻥِ ﻭَﺍِﻥْ خَتَمُوْا اْلقُرْآنَ كَانَ اَفْضَلَ ) المجموع جز 5 ص 258(

“Disunnahkan untuk diam sesaat di samping kubur setelah menguburkan mayit untuk mendo’akan dan memohonkan ampunan kepadanya”, pendapat ini disetujui oleh Imam Syafi’i dan pengikut-pengikutnya, dan bahkan pengikut Imam Syafi’i mengatakan “sunnah dibacakan beberapa ayat al-Qur’an di samping kubur si mayit, dan lebih utama jika sampai mengha tamkan al-Qur’an”.

Selain paparannya di atas Imam Nawawi juga memberikan penjelasan yang lain seperti tertera di bawah ini;

ﻭَﻳُـﺴْـﺘَﺤَﺐُّ ﻟِﻠﺰَّﺍﺋِﺮِ ﺍَﻥْ ﻳُﺴَﻠِّﻢَ ﻋَﻠﻰَ ﺍْﻟﻤَﻘَﺎﺑِﺮِ ﻭَﻳَﺪْﻋُﻮْ ﻟِﻤَﻦْ ﻳَﺰُﻭْﺭُﻩُ ﻭَﻟِﺠَﻤِﻴْﻊِ ﺍَﻫْﻞِ ﺍْﻟﻤَﻘْﺒَﺮَﺓِ. ﻭَﺍْﻻَﻓْﻀَﻞُ ﺍَﻥْ ﻳَﻜُﻮْﻥَ ﺍﻟﺴَّﻼَﻡُ ﻭَﺍﻟﺪُّﻋَﺎﺀُ ﺑِﻤَﺎ ﺛَﺒـَﺖَ ﻣِﻦَ ﺍْﻟﺤَﺪِﻳْﺚِ ﻭَﻳُﺴْـﺘَـﺤَﺐُّ ﺍَﻥْ ﻳَﻘْﺮَﺃَ ﻣِﻦَ ﺍْﻟﻘُﺮْﺃٰﻥِ ﻣَﺎ ﺗَﻴَﺴَّﺮَ ﻭَﻳَﺪْﻋُﻮْ ﻟَﻬُﻢْ ﻋَﻘِﺒَﻬَﺎ ﻭَﻧَﺺَّ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟﺸَّﺎِﻓﻌِﻰُّ ﻭَﺍﺗَّﻔَﻖَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍْﻻَﺻْﺤَﺎﺏُ. (ﺍﻟﻤﺠﻤﻮﻉ ﺟﺰ 5 ص 258 )

“Dan disunnahkan bagi peziarah kubur untuk memberikan salam atas (penghuni) kubur dan mendo’akan kepada mayit yang diziarahi dan kepada semua penghuni kubur, salam dan do’a itu akan lebih sempurna dan lebih utama jika menggunakan apa yang sudah dituntunkan atau diajarkan dari Nabi Muhammad Saw. dan disunnahkan pula membaca al-Qur’an semampunya dan diakhiri dengan berdo’a untuknya, keterangan ini dinash oleh Imam Syafi’i (dalam kitab al-Um) dan telah disepakati oleh pengikut-pengikutnya”.

Referensi : (al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, V/258)

Al-‘Allamah al-Imam Muwaffiquddin ibn Qudamah dari madzhab Hambali mengemukakan pendapatnya dan pendapat Imam Ahmad bin Hanbal

ﻗَﺎﻝَ : ﻭَﻻَ ﺑَﺄْﺱَ ﺑِﺎﻟْﻘِﺮﺍَﺀَﺓِ ﻋِﻨْﺪَ ﺍْﻟﻘَﺒْﺮِ . ﻭَﻗَﺪْ ﺭُﻭِﻱَ ﻋَﻦْ ﺍَﺣْﻤَﺪَ ﺍَﻧَّـﻪُ ﻗَﺎﻝَ: ﺍِﺫﺍَ ﺩَﺧَﻠْﺘﻢُ ﺍﻟْﻤَﻘَﺎﺑِﺮَ ﺍِﻗْﺮَﺋُﻮْﺍ ﺍَﻳـَﺔَ ﺍْﻟﻜُـْﺮﺳِﻰِّ ﺛَﻼَﺙَ ﻣِﺮَﺍﺭٍ ﻭَﻗُﻞْ ﻫُﻮَ ﺍﻟﻠﻪ ُﺍَﺣَﺪٌ ﺛُﻢَّ ﻗُﻞْ ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺍِﻥَّ ﻓَﻀْﻠَﻪُ ِﻷَﻫْﻞِ ﺍﻟْﻤَﻘَﺎﺑِﺮِ .

Artinya “al-Imam Ibnu Qudamah berkata: tidak mengapa membaca (ayat-ayat al-Qur’an atau kalimah tayyibah) di samping kubur, hal ini telah diriwayatkan dari Imam Ahmad ibn Hambal bahwasanya beliau berkata: Jika hendak masuk kuburan atau makam, bacalah Ayat Kursi dan Qul Huwa Allahu Akhad sebanyak tiga kali kemudian iringilah dengan do’a: Ya Allah keutamaan bacaan tadi aku peruntukkan bagi ahli kubur.

Referensi : (al-Mughny II/566)

Demikian semoga Bermanfaat.Amiin.

الاثنين، 18 أكتوبر 2021

PERINGATAN MAULID NABI ADALAH KEBIASAAN YANG BAIK

PERINGATAN MAULID NABI ADALAH KEBIASAAN YANG BAIK

PERINGATAN MAULID NABI ADALAH KEBIASAAN YANG BAIK Peringatan Maulid Nabi adalah termasuk sebuah kebiasaan dan merupakan kebiasaan yang baik Perkara kebiasaan maupun kebiasaan yang sering dilakukan atau tradisi atau adat istiadat berlaku kaidah ushul fiqih “Wal ashlu Fi ‘Aadaatin al Ibaahati Hatta Yajiiu Sooriful Ibahah” yang artinya “dan hukum asal dalam kebiasaan (adat istiadat) adalah boleh saja sampai ada dalil yang memalingkan dari hukum asal atau sampai ada dalil yang melarang atau mengharamkannya“. Peringatan Maulid Nabi adalah perkara baru (bid’ah) yang tidak melanggar satupun laranganNya atau tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah Peringatan Maulid Nabi dapat kita pergunakan untuk intropeksi diri sejauh mana kita telah meneladani Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, bagi kehidupan kita hari ini maupun esok. Begitupula memperingati hari kelahiran diri sendiri dapat kita pergunakan untuk intropeksi diri sejauh mana kita mempersiapkan diri bagi kehidupan di akhirat kelak adalah bukan perkara dosa atau terlarang. Allah Azza wa Jalla berfirman, “Wal tandhur nafsun ma qaddamat li ghad “, “Perhatikan masa lampaumu untuk hari esokmu” (QS al Hasyr [59] : 18 Kemungkinan terjadi kesalahan adalah cara kita mengisi peringatan Maulid Nabi atau cara kita mengisi peringatan hari kelahiran itu sendiri. Sedangkan peringatan Maulid Nabi yang umumnya dilakukan mayoritas kaum muslim (as-sawad al a’zham) dan khususnya kaum muslim di negara kita sebagaimana pula yang diselenggarakan oleh umaro (pemerintah) mengisi acara peringatan Maulid Nabi dengan urutan pembacaan Al Qur'an, pembacaan Sholawat dan pengajian atau ta'lim seputar kehidupan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan kaitannya dengan kehidupan masa kini Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak menghimpun ummatku diatas kesesatan. Dan tangan Allah bersama jama’ah. Barangsiapa yang menyelewengkan, maka ia menyeleweng ke neraka“. (HR. Tirmidzi: 2168). Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Bari XII/37 menukil perkataan Imam Thabari rahimahullah yang menyatakan: “Berkata kaum (yakni para ulama), bahwa jama’ah adalah as-sawadul a’zham (mayoritas kaum muslim)“ Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “Sesungguhnya umatku tidak akan bersepakat pada kesesatan. Oleh karena itu, apabila kalian melihat terjadi perselisihan maka ikutilah as-sawad al a’zham (mayoritas kaum muslim).” (HR.Ibnu Majah, Abdullah bin Hamid, at Tabrani, al Lalika’i, Abu Nu’aim. Menurut Al Hafidz As Suyuthi dalam Jamius Shoghir, ini adalah hadits Shohih) Ibnu Mas’ud radhiallahuanhu mewasiatkan yang artinya: ”Al-Jama’ah adalah sesuatu yang menetapi al-haq walaupun engkau seorang diri” Maksudnya tetaplah mengikuti Al-Jamaah atau as-sawad al a’zham (mayoritas kaum muslim) walaupun tinggal seorang diri di suatu tempat yang terpisah. Hindarilah firqoh atau sekte yakni orang-orang yang mengikuti pemahaman seorang ulama yang telah keluar (kharaja) dari pemahaman mayoritas kaum muslim (as-sawad al a’zham). Dari Ibnu Sirin dari Abi Mas’ud, bahwa beliau mewasiatkan kepada orang yang bertanya kepadanya ketika ‘Utsman dibunuh, untuk berpegang teguh pada Jama’ah, karena Allah tidak akan mengumpulkan umat Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam kesesatan. Dan dalam hadits dinyatakan bahwa ketika manusia tidak mempunyai imam, dan manusia berpecah belah menjadi kelompok-kelompok maka janganlah mengikuti salah satu firqah/sekte. Hindarilah semua firqah/sekte itu jika kalian mampu untuk menghindari terjatuh ke dalam keburukan”. Imam Al hafidh Abu Syaamah rahimahullah (Guru imam Nawawi): “merupakan Bid’ah hasanah yang mulia dizaman kita ini adalah perbuatan yang diperbuat setiap tahunnya di hari kelahiran Rasul shallallahu alaihi wasallam dengan banyak bersedekah, dan kegembiraan, menjamu para fuqara, seraya menjadikan hal itu memuliakan Rasul shallallahu alaihi wasallam dan membangkitkan rasa cinta pada beliau shallallahu alaihi wasallam, dan bersyukur kepada Allah ta’ala dengan kelahiran Nabi shallallahu alaihi wasallam“. Imam Al hafidh Ibn Abidin rahimahullah, dalam syarahnya maulid ibn hajar berkata : “ketahuilah salah satu bid’ah hasanah adalah pelaksanaan maulid di bulan kelahiran nabi shallallahu alaihi wasallam” Imam Al Hafidh Ibnul Jauzi rahimahullah, dengan karangan maulidnya yang terkenal “al aruus” juga beliau berkata tentang pembacaan maulid, “Sesungguhnya membawa keselamatan tahun itu, dan berita gembira dengan tercapai semua maksud dan keinginan bagi siapa yang membacanya serta merayakannya”. Imam Al Hafidh Al Qasthalaniy rahimahullah dalam kitabnya Al Mawahibulladunniyyah juz 1 hal 148 cetakan al maktab al islami berkata: “Maka Allah akan menurukan rahmat Nya kepada orang yang menjadikan hari kelahiran Nabi saw sebagai hari besar”. Janganlah karena kebiasaan maulid Nabi telah ditinggalkan oleh orang Arab yang merupakan pengikut ajaran ulama Muhammad bin Wahhab lalu kita mengharamkan atau melaranga peringatan Maulid Nabi karena mengharamkan (melarang) sesuatu yang tidak diharamkan (dilarang) oleh Allah Azza wa Jalla sama dengan menyekutukan Allah. Firman Allah Azza wa Jalla yang artinya, “Katakanlah! Tuhanku hanya mengharamkan hal-hal yang tidak baik yang timbul daripadanya dan apa yang tersembunyi dan dosa dan durhaka yang tidak benar dan kamu menyekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak turunkan keterangan padanya dan kamu mengatakan atas (nama) Allah dengan sesuatu yang kamu tidak mengetahui.” (QS al-A’raf: 32-33) Dalam hadits Qudsi , Rasulullah bersabda: “Aku ciptakan hamba-hambaKu ini dengan sikap yang lurus, tetapi kemudian datanglah syaitan kepada mereka. Syaitan ini kemudian membelokkan mereka dari agamanya, dan mengharamkan atas mereka sesuatu yang Aku halalkan kepada mereka, serta mempengaruhi supaya mereka mau menyekutukan Aku dengan sesuatu yang Aku tidak turunkan keterangan padanya.” (Riwayat Muslim)

الاثنين، 19 يوليو 2021

Berapa Bagian Pemilik Qurban

Berapa Bagian Pemilik Qurban




Jika Anda menyembelih hewan Qurban, anda dianjurkan memakan sebagian dagingnya, maksimal sepertiga menurut Mazhab Syafi'i. Berdasarkan ayat:


فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ 


"Maka makanlah sebagian daripadanya (Qurban) dan sebagian lagi berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir." (Al-Ĥaj: 28)


Mana bagian daging yang dianjurkan untuk dimakan sendiri? Boleh bagian mana saja. Akan tetapi jika melihat kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, beliau senang mengambil bagian dari hewan:


1. Paha Sebelah Kanan Depan


ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻫﺮﻳﺮﺓ ﻗﺎﻝ: «ﺃﺗﻲ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺑﻠﺤﻢ ﻓﺪﻓﻊ ﺇﻟﻴﻪ اﻟﺬﺭاﻉ ﻭﻛﺎﻥ ﻳﻌﺠﺒﻪ ﻓﻨﻬﺲ ﻣﻨﻬﺎ»


Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam disuguhi daging, kemudian Nabi diambilkan pergelangan. Nabi menyukainya. Lalu Nabi memakannya [dengan menggigitnya]" (HR At-Tirmidzi)


Pengertian dzira' dalam hewan adalah:


ﻭﻣﻦ ﻳﺪﻱ اﻟﺒﻘﺮ ﻭاﻟﻐﻨﻢ ﻓﻮﻕ اﻟﻜﺮاﻉ 

 

Kedua kaki depan di atas lutut untuk sapi dan kambing (Sunan At-Tirmidzi dan Tuhfah Al-Ahwadzi 5/463)


Daging yang didahar (dimakan) oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam ternyata mengandung kolesterol rendah dan tidak membahayakan kesehatan (lihat gambar no 6 dan kadar kolesterolnya). Kolesterol yang tinggi terdapat pada gajih, jeroan dan kepada hewan.


2. Jeroan


ﻋﻦ ﺑﺮﻳﺪﺓ، ﻗﺎﻝ: " ﻛﺎﻥ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺇﺫا ﺭﺟﻊ ﺃﻛﻞ ﻣﻦ ﻛﺒﺪ ﺃﺿﺤﻴﺘﻪ "


Dari Buraidah bahwa jika Rasulullah shalallahu alaihi wasallam telah pulang (dari Salat idul Adha) beliau memakan hati hewan Qurban beliau" (HR Al Baihaqi)


Saat ini jeroan masuk kategori organ tubuh hewan yang memiliki kadar kolesterol tinggi. Apa yang dilakukan oleh Nabi shalallahu alaihi wasallam ini adalah menunjukkan hukum boleh. Bukan berarti Nabi tidak memperhatikan kesehatan. Sebab Rasulullah shalallahu alaihi wasallam termasuk jarang sakit karena cara hidup beliau adalah gaya hidup sehat.


Kecuali jika hewan Qurban tersebut adalah nazar, maka pemiliknya tidak boleh makan dan mengambil bagian. Seluruhnya harus disedekahkan. Nazar itu janji atas nama Allah dan Allah mengabulkan keinginannya. Misal: "Jika tahun ini anak saya hafal Al-Qur'an maka akan saya lakukan Qurban", "Jika istri saya melahirkan anak laki-laki/ perempuan maka saya akan Qurban sapi" dan sebagainya, kemudian Allah mengabulkan, maka Qurban nazar harus disedekahkan semua kepada orang-orang yang tidak mampu.