Niat Wudhu dengan Fiil Madhi sedangkan Niat sholat dengan Fiil Mudhori'

 Mengapa niat sholat pakai fi'il mudhori' sedangkan niat wudhu memakai fi'il madhi ?


 Niat wudhu memakai fi'il madhi karena niat wudhu adalah niatnya itu sendiri. 


Sedangkan fungsi kebiasaan melafadzkan niat (Talaffudz binniyah) untuk "memperdengarkan" kepada hati atau "membantu" hati dalam berniat karena dalam kitab Al Umm, Imam Syafi’i menjelaskan bahwa niat sholat adalah amalan hati, niat shalat dilakukan bersamaan dengan takbiratul Ihram dan merupakan bagian dari shalat (rukun shalat). 


Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, Rosulullohﷺ bersabda, 


مِفْتَاحُ الصَّلَاةِ الطُّهُورُ، وَتَحْرِيمُهَا التَّكْبِيرُ، وَتَحْلِيلُهَا التَّسْلِيمُ 


“Kunci shalat adalah bersuci, yang mengharamkannya adalah takbiratul ihram, dan yang menghalalkannya adalah salam.” (HR. Ahmad, Abu Daud, Turmudzi) 


Jadi dengan sabda Rosulullohﷺ yang ARTINYA "yang menghalalkannya adalah salam" MAKNANYA batas yang menghalalkan untuk melakukan kesibukan di luar shalat adalah salam maka setelah salam boleh melakukan aktifitas apapun termasuk berdzikir atau berdoa apapun selama redaksi doa tidak bertentangan dengan Al Qur'an dan Hadits. 


Begitupula dengan sabda Rosulullohﷺ yang ARTINYA "mengharamkannya adalah takbiratul ihram" MAKNANYA batas yang mengharamkan untuk melakukan kesibukan di luar shalat adalah takbiratul ihram maka aktifitas atau ucapan apapun SEBELUM takbiratul ihram TIDAKLAH TERLARANG. 


Para fuqaha (ahli fiqih) berpendapat bahwa kebiasaan melafadzkan niat (Talaffudz binniyah) bermanfaat membantu hati dalam berniat, seperti untuk menghilangkan gangguan hati (was-was). 


Al-Imam Muhammad bin Abi al-‘Abbas Ar-Ramli/Imam Ramli terkenal dengan sebutan “Syafi’i Kecil” dalam kitab Nihayatul Muhtaj juz I : 437 : 


وَيُنْدَبُ النُّطْقُ بِالمَنْوِيْ قُبَيْلَ التَّكْبِيْرِ لِيُسَاعِدَ اللِّسَانُ القَلْبَ وَلِأَنَّهُ أَبْعَدُ عَنِ الوِسْوَاسِ وَلِلْخُرُوْجِ مِنْ خِلاَفِ مَنْ أَوْجَبَهُ 


“Disunnahkan (mandub) melafadzkan niat sebelum takbiratul Ihram agar lisan dapt membantu hati (kekhusuan hati), agar terhindar dari gangguan hati (was-was) dan sekaligus mengindari perselisihan dengan ulama yang mewajibkannya” 


Begitupula ulama dari kalangan mazhab yang lain seperti, 


– Mazhab Hanafi : Ulama Hanafiyah berpendapat bahwa niat sholat adalah bermaksud untuk melaksanakan sholat karena Allohﷻ dan letaknya dalam hati, namun tidak disyaratkan melafadzkan dengan lisan. Adapun melafadzkan niat dengan lisan sunah hukumnya, sebagai pembantu kesempurnaan niat dalam hati. Dan menentukan jenis sholat dalam niat adalah lebih afdlal. (al-Badai’ I/127. Ad-Durru al-Muhtar I/406. Fathu al-Qadir I/185 dan al-lubab I/66) 


– Mazhab Maliki : Ulama Malikiyah berpendapat bahwa niat adalah bermaksud untuk melaksanakan sesuatu dan letaknya dalam hati. Niat dalam sholat adalah syarat sahnya sholat, dan sebaiknya melafadzkan niat, agar hilang keragu-raguannya. Niat sholat wajib bersama Takbiratul Ihram, dan wajib menentukan jenis sholat yang dilakukan (al-Syarhu al-Shaghir wa-Hasyiyah ash-Shawy I/303-305. al-Syarhu al-Kabir ma’ad-Dasuqy I/233 dan 520). 


– Mazhab Hambali : Ulama Hanabilah berpendapat bahwa niat adalah bermaksud untuk melakukan ibadah, yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allohﷻ. Sholat tidak sah tanpa niat, letaknya dalam hati, dan sunnah melafadzkan dengan lisan, disyaratkan pula menentukan jenis sholat serta tujuan mengerjakannya. (al-Mughny I/464-469, dan II/231. Kasy-Syaaf al-Qona’ I364-370). 


Ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa niat adalah bermaksud melaksanakan sesuatu yang disertai dengan perbuatan. Letaknya dalam hati. Niat sholat disunnahkan melafadzkan menjelang Takbiratul Ihram dan wajib menentukan jenis sholat yang dilakukan. (Hasyiyah al-Bajury I/149. Mughny al-Muhtaj I/148-150. 252-253. al-Muhadzab I/70 al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab III/243-252). 


Jadi jelaslah bahwa kebiasaan melafadzkan niat (Talaffudz binniyah) untuk membantu hati dalam berniat karena di dalam melakukan niat shalat fardlu diwajibkan memenuhi unsur-unsur sebagai berikut ; 


– Qashdul fi’li (قصد فعل) yaitu mnyengaja mengerjakannya, lafadznya seperti (أصلي /ushalli/”aku menyengaja”) 


– Ta’yin (التعيين) maksudnya adalah menentukan jenis shalat, seperti Dhuhur atau Asar atau Maghrib atau Isya atau Shubuh. 


– Fardliyah (الفرضية) maksudnya adala menyatakan kefardhuan shalat tersebut, jika memang shalat fardhu. Adapun jika bukan shalat fardhu (shalat sunnah) maka tidak perlu Fardliyah (الفرضية). 


Jadi berniat, semisal, 


ﺍﺼﻠﻰ ﻓﺮﺽ ﺍﻟﻈﻬﺮ ﺃﺩﺍﺀ ﻟﻠﻪ ﺗﻌﻠﻰ 


"Sengaja aku shalat fardhu dhuhur karena Alloh Ta'ala" saja sudah cukup.

Belum ada Komentar untuk "Niat Wudhu dengan Fiil Madhi sedangkan Niat sholat dengan Fiil Mudhori'"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel